Tulis & Tekan Enter
images

Perpustakaan Margasari, satu-satunya perpustakaan di kawasan atas air yang menjadi pusat kegiatan literasi bagi warga pesisir.

Perpustakaan Atas Air di Margasari Jadi Pusat Literasi Anak Pesisir

Kaltimkita.com, BALIKPAPAN — Di antara deretan rumah panggung di Kelurahan Margasari, Kecamatan Balikpapan Barat, berdiri sebuah ruang sederhana yang setiap akhir pekan dipenuhi tawa anak-anak. Tempat itu adalah Perpustakaan Margasari, satu-satunya perpustakaan di kawasan atas air yang kini berkembang menjadi pusat kegiatan literasi bagi warga pesisir.

Perpustakaan ini tidak lagi sekadar tempat meminjam buku. Dalam dua tahun terakhir, fungsinya berkembang menjadi ruang edukasi inklusif yang menggabungkan belajar dan bermain. Anak-anak datang bukan hanya untuk membaca, tetapi juga mengikuti berbagai aktivitas kreatif yang dirancang sesuai usia mereka.

Lurah Margasari, Hendra Jaya Prawira, mengatakan pihaknya sengaja menghidupkan perpustakaan agar lebih menarik dan relevan bagi anak-anak pesisir.

“Sekarang perpustakaan tidak lagi pasif. Kami ingin tempat ini hidup, jadi sarana belajar anak-anak pesisir agar mereka terbiasa membaca sejak kecil,” ujarnya, Selasa (28/4/2026)

Awalnya, perpustakaan tersebut merupakan inisiatif warga yang kemudian mendapat pendampingan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Balikpapan. Seiring perkembangannya, pihak kelurahan juga menggandeng berbagai pihak, termasuk program CSR dari Pertamina serta komunitas lokal untuk memperkaya kegiatan edukasi.

Salah satu program unggulan yang rutin digelar adalah “Kelas Kecil”. Dalam kegiatan ini, relawan mengajar anak-anak membaca, menggambar, hingga mengenalkan isu lingkungan secara sederhana.

“Anak-anak belajar dengan cara yang menyenangkan. Mereka diajak mengenal sampah, mikroplastik, dan pentingnya menjaga laut sejak dini,” jelas Hendra.

Peserta kegiatan umumnya anak usia 5 hingga 12 tahun, mayoritas berasal dari keluarga nelayan dan pekerja harian di wilayah pesisir. Metode pembelajaran dibuat interaktif dengan memanfaatkan media gambar, permainan, serta pendekatan komunikatif agar anak-anak tidak mudah bosan.

Program literasi ini juga melibatkan pegawai Pertamina yang turun langsung sebagai relawan pengajar. Kehadiran mereka memberikan variasi pengalaman belajar sekaligus memperluas wawasan anak-anak tentang dunia luar.

Dukungan juga datang dari para orang tua. Mereka menilai kegiatan di perpustakaan membantu mengalihkan anak-anak dari kebiasaan bermain gawai secara berlebihan.

“Sekarang tiap Minggu pagi perpustakaan penuh. Orang tua juga bangga anaknya lebih suka baca daripada main HP,” ungkap Hendra.

Melalui ruang sederhana yang berdiri di atas air tersebut, Margasari menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk membangun budaya literasi. Dari kawasan pesisir, semangat membaca tumbuh perlahan, membuka harapan baru bagi masa depan anak-anak di Balikpapan Barat. (ref)



Tinggalkan Komentar

//