Tulis & Tekan Enter
images

FOTO: Kondisi jalan tol akses IKN yang ambruk pada Kamis (8/1/2026) setelah difungsikan terbatas pada Nataru 2025/2026. (Ist)

Soal Jalan Tol Akses IKN Ambruk, Dosen Teknik Sipil Poltekba Beber Kerentanan Slab on Pile Jika Drainase Gagal

Kaltimkita.com, BALIKPAPAN - Ambruknya jalan tol akses Ibu Kota Nusantara (IKN) segmen 3A2 di KM 11 Balikpapan Utara pada Kamis (8/1/2026) dinilai bukan semata-mata disebabkan oleh hujan ekstrem.

Dosen Teknik Sipil Politeknik Negeri Balikpapan, Ir. Aco Wahyudi, menjelaskan bahwa kegagalan struktur slab on pile umumnya bersifat multifaktor.

"Intensitas hujan ekstrem jarang menjadi satu-satunya penyebab kegagalan struktur, melainkan lebih sering berperan sebagai faktor pemicu bersama kondisi lain," ujar Aco saat dihubungi, Minggu (11/1/2026).

Menurut Aco, sistem slab on pile bekerja dengan menyalurkan beban lalu lintas dan struktur langsung ke tiang pondasi yang menembus tanah lunak hingga lapisan tanah keras atau lebih stabil.

Pelat beton (slab) berfungsi sebagai elemen pembagi beban, sehingga kondisi tanah existing di bawah slab tidak menjadi elemen utama penahan beban.

Dengan konsep tersebut, deformasi tanah permukaan dapat diminimalisir, terutama di area dengan kondisi tanah lunak, timbunan tinggi, atau daerah rawan penurunan.

Aco menambahkan, pada prinsipnya slab on pile relatif lebih aman terhadap penurunan tanah dibandingkan konstruksi jalan konvensional.

Namun, pria yang juga Forensik Engineers dari PT. AWEfendi Geostruk Indonesia itu tak menampik sistem ini juga tetap sensitif terhadap kondisi lingkungan. 

"Terutama jika terjadi perubahan kuat geser tanah di sekitar pile, peningkatan kadar air akibat hujan ekstrem, erosi atau pelemahan permukaan tanah oleh aliran air, serta kinerja drainase di sekitar struktur yang tidak optimal," jelas Aco.

Aco menegaskan hujan ekstrem tidak langsung merusak slab atau pile, tetapi dapat mempercepat degradasi tanah pendukung jika aliran air tidak terkelola dengan baik.

Dia beranggapan, kegagalan struktur umumnya dipicu kombinasi faktor, seperti lokasi di tanah berdaya dukung marginal serta drainase yang tidak berfungsi optimal sehingga memicu erosi dan degradasi sifat mekanis tanah.

Selain itu, adanya perubahan muka air tanah yang signifikan dan pada efek jangka panjang teridentifikasi potensi konsolidasi atau pergerakan lateral tanah.

"Dengan kata lain, kegagalan struktur biasanya bersifat multifaktor, bukan akibat satu kejadian tunggal," tegas Aco.

Disinggung soal daerah bercurah hujan tinggi, Aco menjelaskan bahwa perencanaan jalan tol umumnya mengacu pada sejumlah standar teknis utama.

Analisis perilaku hidrologi hujan rencana, hingga periode ulang 100 tahunan, perlu mengidentifikasi sistem drainase permukaan dan bawah permukaan yang sesuai.

Bagi Aco, yang terpenting adalah analisis stabilitas lereng dan timbunan, evaluasi kapasitas desain struktur, serta kajian pengaruh tekanan air pori terhadap tanah.

Termasuk juga perubahan kondisi lingkungan yang harus diteliti sebelum dan sesudah konstruksi.

"Pendekatan ini bertujuan mengantisipasi kondisi ekstrem dalam batas perencanaan, dengan asumsi sistem berfungsi dan terpelihara dengan baik," ungkap Aco.

Terkait klasifikasi force majeure, Aco menilai istilah tersebut dalam teknik sipil merujuk pada kejadian alam yang melampaui asumsi dan kriteria desain yang lazim digunakan.

Namun, hujan deras sendiri bukan fenomena yang asing dalam perencanaan infrastruktur di Indonesia.

Misalnya bencana di wilayah barat Indonesia tidak sepenuhnya dipicu hujan, tetapi juga dampak perubahan lingkungan.

Karena itu, klasifikasi perlu ditinjau secara komprehensif, mencakup hujan yang melampaui rencana serta perubahan kondisi tanah dan drainase yang memicu degradasi.

Terjadinya perubahan lingkungan setelah konstruksi juga sangat berpengaruh.

"Dengan demikian, penilaian force majeure atau tidak sebaiknya dilakukan berdasarkan evaluasi teknis menyeluruh, bukan hanya dari satu parameter kejadian," pungkas Aco.

Sebelumnya, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Kalimantan Timur, Yudi Hardiana, menyatakan bahwa ambruknya tol IKN dipicu oleh pergerakan pada slab on pile akibat pergeseran tanah disposal yang diakibatkan oleh intensitas hujan yang cukup tinggi.

Perbaikan ditargetkan selesai pada Maret 2026 agar dapat berfungsi secara fungsional untuk Tol Lebaran 2026. (zyn) 



Tinggalkan Komentar

//