Kaltimkita.com , SAMARINDA- Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai menaruh perhatian serius terhadap menurunnya kemampuan dasar siswa, khususnya dalam mata pelajaran matematika. Temuan ini memunculkan evaluasi menyeluruh terhadap metode pembelajaran di sekolah, mulai dari jenjang dasar hingga menengah.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Timur, Rahmat Ramadhan, menyampaikan bahwa kondisi ini ditemukan saat dirinya melakukan kunjungan langsung ke sejumlah sekolah di beberapa kabupaten dan kota. “Hitungan dasar saja kadang tidak tahu. Misalnya 15 kali 15, atau 8 kali 8, itu ada yang tidak bisa,” ujar Rahmat Ramadhan.
Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak hanya terjadi di jenjang SMA, tetapi sudah terlihat sejak SD dan SMP. Hal ini menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam proses pembelajaran yang perlu segera diperbaiki agar tidak semakin melebar.
Rahmat menilai bahwa sebagian guru mungkin terlalu mengandalkan jenjang berikutnya untuk memperbaiki kemampuan siswa, sehingga terjadi tumpukan masalah yang akhirnya terbawa hingga tingkat lebih tinggi. “Kadang ada perilaku begini: sudah lah biar SD saja yang urus, biar SMP saja yang urus, SMP biar SMA yang urus. Nah, itu yang harus diperbaiki,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa evaluasi ini tidak hanya terkait matematika saja, tetapi juga menyangkut kemampuan dasar lain yang seharusnya dibangun sejak jenjang terbawah. Kelemahan ini kemudian terlihat kembali saat siswa menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA) pada seleksi pendidikan lanjutan.
Rahmat menyebut bahwa hasil TKA kini sudah menjadi indikator penting untuk menentukan kelayakan masuk jurusan tertentu di perguruan tinggi. Rendahnya nilai pada bagian dasar menunjukkan adanya celah besar dalam proses pembelajaran di sekolah.
“TKA itu sebenarnya mengukur kekuatan masing-masing. Misalnya mau masuk jurusan hukum harusnya nilainya 500, kalau 400 berarti dia tidak bisa masuk,” katanya.
Menurutnya, tidak ada istilah “lurus atau tidak lurus” dalam penentuan hasil TKA. Nilai tersebut hanyalah syarat yang menunjukkan apakah siswa telah menguasai kemampuan dasar yang dibutuhkan jurusan tertentu.
Rahmat menambahkan bahwa Disdikbud Kaltim akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk menyelaraskan kebijakan dan mengetahui metode apa yang paling tepat diterapkan untuk mengatasi persoalan ini. “Kami akan berkoordinasi dengan pusat juga. Arahnya bagaimana nanti, kita akan berkongsi,” ujarnya.
Ia menilai bahwa perbaikan harus dimulai dari pembenahan metode di kelas, peningkatan kualitas pengajaran, dan strategi pembelajaran yang lebih interaktif agar siswa memahami konsep secara mendalam, bukan sekadar menghafal.
Rahmat juga menekankan pentingnya peran sekolah dalam memastikan setiap jenjang pembelajaran tidak melempar tanggung jawab ke jenjang berikutnya. Setiap tahap harus menjadi fondasi yang kuat sebelum siswa naik tingkat.
Dengan evaluasi menyeluruh ini, pemerintah berharap hasil belajar siswa di Kalimantan Timur dapat meningkat dan tidak tertinggal dibandingkan dengan capaian nasional. Kemampuan dasar yang kuat diyakini akan menjadi modal penting bagi masa depan pendidikan siswa.
Rahmat berharap sinergi antara guru, sekolah, orang tua, dan pemerintah dapat memperbaiki kualitas pembelajaran sehingga permasalahan serupa tidak terus berulang di masa mendatang. (den/adv diskominfokaltim)


