Kaltimkita.com, BALIKPAPAN — Kawasan pesisir di Kelurahan Kariangau kini dikenal memiliki contoh sukses pemberdayaan ekonomi berbasis masyarakat yang mampu bertahan hampir satu dekade, yakni program Nelayan Berdasi. Inisiatif ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara warga, pemerintah, dan perusahaan dapat melahirkan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.
Lurah Kariangau, Singgih Aji Wibowo, menjelaskan bahwa program tersebut mulai dirintis sekitar tahun 2015–2016. Awalnya, kawasan tersebut hanyalah tambak biasa yang kemudian dikembangkan bersama Pertamina menjadi destinasi wisata berbasis lingkungan.
“Dulu itu tambak biasa, kemudian bersama Pertamina dikembangkan menjadi kawasan yang lengkap. Ada tempat mancing, tempat kuliner hasil laut, dan ruang untuk aktivitas warga,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).
Seiring berjalannya waktu, kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai lokasi pemancingan, tetapi juga berkembang menjadi wisata edukasi berbasis mangrove. Penataan dilakukan tanpa merusak lingkungan, sehingga keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
Menariknya, setelah masa kerja sama dengan perusahaan berakhir, masyarakat setempat justru mampu melanjutkan pengelolaan secara mandiri. Bahkan, kini telah muncul pengembangan baru dengan konsep serupa yang sepenuhnya dikelola warga tanpa dukungan sponsor.

“Mereka sekarang sudah bisa mandiri. Bahkan ada pengembangan Nelayan Berdasi kedua yang konsepnya dibuat tanpa sponsor,” jelas Singgih.
Dalam operasionalnya, masyarakat tetap mempertahankan vegetasi mangrove di sekitar tambak. Area pemancingan dibangun tanpa menebang pohon, sehingga fungsi lingkungan tetap terjaga sekaligus menjadi daya tarik wisata tersendiri.
Konsep wisata yang ditawarkan pun cukup unik. Pengunjung tidak hanya memancing, tetapi juga bisa langsung mengolah hasil tangkapan di lokasi.
“Orang datang bisa mancing, lalu ikannya bisa langsung dimasak atau dibakar di tempat. Ini yang membuat pengunjung tertarik,” tambahnya.
Dampak ekonomi dari program ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Jika sebelumnya warga hanya mengandalkan hasil melaut, kini mereka memiliki sumber pendapatan tambahan dari sektor wisata dan usaha kuliner.
“Nelayan sekarang punya tambahan penghasilan. Saat tidak melaut, mereka tetap bisa bekerja di kawasan wisata, seperti membuka warung atau mengelola tempat mancing,” ungkapnya.
Untuk menjaga keberlanjutan program, pihak kelurahan turut memberikan dukungan kelembagaan melalui pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) serta penerbitan Surat Keputusan (SK) bagi pengelola.
“Setelah Pertamina selesai, kami bantu mereka membentuk KUBE dan legalitasnya agar pengelolaan tetap berjalan,” jelasnya.
Kini, Nelayan Berdasi menjadi salah satu ikon wisata lokal di Kariangau. Dari tambak sederhana, kawasan ini berkembang menjadi simbol keberhasilan pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi nelayan pesisir.(ref)


