Tulis & Tekan Enter
images

Pekerja Perempuan Ditengah Pandemi Covid-19

 

Oleh: Dimaz Harits, S.T., M.T. (Dosen Teknik Industri Universitas Balikpapan)

 KaltimKita.com, BALIKPAPAN  -  Pandemi COVID-19 kembali memberikan pukulan hebat bagi pemulihan ekonomi nasional. Belum selesai dampak pada gelombang pertama, pandemi kembali mangancam dengan gelombang varian Delta. Aktivitas perekonomian masyarakat yang sebelumnya membaik, kembali melewati fase – fase kritis akibat penerapan PPKM Darurat.

Pemerintah sepenuhnya tidak dapat disalahkan, terlebih lagi  penyebaran varian ini benar – benar cepat dan ganas. Optimisme pasar dari kembalinya sektor non esensial dan vaksinasi masal akhirnya menyerah pada regulasi darurat pemerintah.

Dibalik naik turunya angka – angka perekonomian, ada tangis dan harap dari wajah – wajah pekerja yang terancam diPHK. Di Kalimantan Timur misalnya, sejak awal pandemi hingga Agustus 2020, terdapat 22.043 pekerja diPHK, 23.628 lainya dirumahkan dan 1.018 pelaku usaha bangkrut atau kehilangan usahanya akibat terdampak pandemi covid-19.

Dalam rilis Ketenagakerjaan Dalam Data edisi ke-3 tahun 2021, sejak Februari sampai Agustus 2020,  sebanyak 2.562.530 pekerja menanggur karena pandemi Covid-19 dan 902.091 diantaranya pekerja perempuan. Angka partisipasi tenaga kerja perempuan tahun 2020 berada dikisaran 55 persen, jika demikian jumlah 902.091 dari total 2.562.530 tergolong tinggi. Mentri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, 40 persen perempuan bekerja pada sektor yang paling terdampak pandemi.

Kebutuhan keluarga yang tidak seimbang dengan pemasukan menjadi salah satu pendorong perempuan untuk bekerja. Selain bekerja membantu memenuhi perekonomian rumah tangga, perempuan juga menjadi ujung tombak pekerjaan domestik dan pendidikan anak dirumahnya. Dikala pandemi melanda, anak – anak yang tadinya dititip ke sekolah – sekolah, suami yang sembilan jam bekerja diluar, berkumpul dirumah menerapkan Learn from home dan work from home. Akibatnya, aktifitas domestik pekerja perempuan semakin meningkat dan pekerjaan kantorpun terbengkalai.

Menurut sebagian orang, menghabiskan waktu di rumah adalah aktifitas yang menyenangkan. Dengan kondisi ekonomi yang tidak menentu ceritanya bisa berbeda. Sekolah daring yang menjadi solusi pendidikan dimasa pandemi tak jarang menaikkan tingkat stress khususnya para ibu. Sekjen PBB melaporan peningkatan angka perceraian di beberapa negara selama masa pandemi.

Data Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) menunjukkan terdapat 110 kasus KDRT pada pemberlakuan PSBB pertama (16 Maret  - 20 Juni 2020).  Survei Komnas Perempuan terhadap 2.285 responden yang berasal dari 34 Provinsi menunjukkan beberapa kesimpulan berikut; (1) Pandemi  Covid-19 mengubah beban kerja perempuan karena peran gender mereka; (2) terdapat keyakinan kerja domestik menjadi tanggung jawab utama perempuan; (3) waktu kerja pada ranah domestik meningkat hingga 2 kali lipat; (4) Satu dari tiga responden menyatakan bertambahnya pekerjaan rumah tangga menyebabkan naiknya tingkat stress; (5) KDRT yang terjadi pada masa pandemi Covid-19 didominasi kekerasa psikologis dan ekonomi; (6) Rumah tangga dengan pengeluaran yang meningkat memiliki peluang kekerasan fisik dan seksual yang lebih tinggi; (7) Upaya melaporkan kekerasan menurun angkanya karena korban memilih diam.

Pandemi covid – 19, membuat triple-burden (mencari nafkah, pekerjaan domestik rumah tangga, dan mendidik anak) pekerja perempuan semakin meningkat. Mereka dihadapkan pada tantangan fisik dan mental yang berat. Realitas ini harus kita hadapi dengan kebijaksanaan di setiap level. Dalam level pemerintah, perlu adanya perhatian khusus pada perempuan ditengah pandemi seperti ini. Jika pemerintah benar – benar ingin meningkatkan angka partisipasi kerja perempuan, inilah saatnya.

Berikan dan upayakan wadah – wadah kreatif bagi perempuan, agar mereka lebih produktif secara ekonomi dan sosial dimasa pandemi. Dalam level keluarga, buat para suami, anak dan siapapun yang masih memiliki ibu, adik atau kakak perempuan, inilah kesempatan kita untuk menumbuhkan rasa saling kasih mengasihi. Pekerjaan domestik rumah tangga bukan pekerjaan wajib perempuan.

Mulailah dari hal – hal sederhana yang mampu menimbulkan rasa menghargai, mulailah dari mencuci piring dan gelas sendiri, hilangkan rasa gengsi. Pada level industri, buat para investor, pemilik perusahaan, manajer dan lainya, ingatlah kata Alec Ross, pakar inovasi dunia yang lagi naik daun,   bahwa sebuah negara tidak akan maju tanpa menghargai perempuan, sebuah korporasi tidak akan berkembang tanpa menghargai perempuan. (*/and)


TAG

Tinggalkan Komentar

//