KaltimKita.com - Kamis (14/1/2021) sore kemarin gempa bumi tengah melanda Sulawesi Barat. Dengan kekuatan 5,9 magnitudo mengguncang wilayah Majene sekitar pukul 14.30 Wita. Hal ini pun juga dirasakan di Balikpapan.
Gempa yang terjadi di Majene membuat warga panik. Tak hanya mereka yang merasakan langsung, tapi para keluarga yang berada di luar daerah. Salah satunya yang dialami oleh Alfiansyah, warga Balikpapan Jalan Persatuan RT 32 Kelurahan Manggar Baru. Ia memiliki keluarga di desa Dusun Deking, Desa Lombong, Kec. Malunda, Majene.

Alfiansyah menceritakan desa tersebut merupakan salah satu daerah yang terdampak. Sanak keluarganya mengungsi ke perbukitan. Termasuk nenek dibopong dan dinaiikan di mobil pikap. Semua keluarga mengungsi ke belakang rumah yang agak berbukit dan menjauhi bibir pantai (kurang lebih 400 meter dari rumah).
Hanya saja, saat kejadian ia bingung harus menghubungi siapa. Sebab tidak ada nomor telepon yang bisa dihubungi sejak pagi kemarin. Ia baru bisa menghubungi sanak keluarganya sekira pukul 20.00 Wita tadi malam.
”Alhamdulillah lega karena mereka semua aman. Nenek dan keluarga menginap di warung sepupu yang tembok dan atapnya terbuat dari bahan ringan. Karena keluarga masih trauma dan takut terjadi gempa susulan,“ ujar Alfiansyah saat dihubungi KaltimKita.com.
Trauma dan takut, kata mantan Media Officer Persiba Balikpapan ini dialami keluarganya. Mengingat dahulu, pernah ada kejadian serupa dan ombak besar muncul menghantam beberapa rumah di pesisir. ”Kalau di kampung saat gempa, orang-orang pasti lari ke tempat yang tinggi,“ jelasnya.
Belum hilang rasa trauma, gempa susulan kembali terjadi. Bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya. Ya Jumat (15/1/2021) sekitar pukul 02.30 Wita, gempa dengan getaran lebih kuat yakni 6,2 magnitudo.
”Kami dengar kabar itu, kembali cemas. Karena sinyal kembali hilang. Dan tadi pagi, baru dapat kabar jika semua keluarga kembali aman,” ujarnya.
Dari informasi yang didapat dari keluarganya, Alfiansyah bercerita rumah di kampung banyak rusak dan ambruk, kepala desa Mekatta (desa tetangga) meninggal dunia karena tertimpa reruntuhan bangunan.
”Alhamdulillah, di kampung kami tak ada korban jiwa. Mungkin ada yang terluka akibat reruntuhan. Semoga bencana ini cepat tuntas. Karena kami semua gelisah dan cemas dengan keluarga yang ada disana“ harapnya. (tim)


