Kaltimkita.com, SAMARINDA - DPRD Kota Samarinda mulai menyoroti aspek ketahanan operasional Perumda Tirta Kencana di tengah meningkatnya beban biaya produksi air bersih.
Hal ini mengemuka saat Panitia Khusus (Pansus) LKPJ Kepala Daerah melakukan peninjauan langsung ke perusahaan daerah tersebut. Fokus pembahasan tidak hanya pada capaian layanan, tetapi juga pada kemampuan perusahaan menjaga stabilitas operasional di tengah tekanan ekonomi.
Anggota Komisi I DPRD Samarinda, Ronal Stephen Lonteng, menyebut bahwa lonjakan biaya operasional, terutama pada energi, menjadi tantangan serius yang perlu diantisipasi sejak dini.
“Biaya produksi terus naik, terutama bahan bakar. Ini harus dihitung matang agar tidak berdampak pada keberlanjutan layanan,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Dalam pertemuan itu, terungkap harga solar industri yang digunakan dalam operasional kini mendekati Rp30 ribu per liter. Kondisi ini dinilai berpotensi menekan efisiensi perusahaan jika tidak diimbangi dengan strategi pengelolaan yang tepat.
Meski demikian, DPRD tetap mengapresiasi kontribusi Perumda terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dinilai positif. Namun, Ronal menegaskan bahwa kinerja finansial harus berjalan beriringan dengan ketahanan layanan jangka panjang.
Ia menekankan pentingnya inovasi dan efisiensi, termasuk optimalisasi teknologi serta penguatan manajemen distribusi agar biaya operasional dapat ditekan tanpa mengurangi kualitas pelayanan.
“Perusahaan daerah harus adaptif. Jangan sampai beban biaya tinggi justru berdampak pada masyarakat,” tegasnya.
DPRD menilai, ke depan diperlukan strategi komprehensif untuk menjaga keseimbangan antara kinerja bisnis dan fungsi pelayanan publik, sehingga Perumda tetap mampu memberikan layanan air bersih yang stabil di tengah dinamika ekonomi. (rk/adv).


