Kaltimkita.com, BALIKPAPAN - Industri kreatif Kota Balikpapan akhirnya menunjukkan geliatnya. Film bergenre komedi horor berjudul “Kerja, Apa Dikerjain?” resmi menggelar gala premier di Bioskop Cinepolis Mall Living Plaza, Selasa malam (10/2/2025), dan disambut antusias ratusan penonton yang memadati satu teater penuh.
Film layar lebar ini dibintangi sejumlah konten kreator kondang Balikpapan, di antaranya Ben Kriswana, Aldi Sodrak, Fazri Kecap, Elvin Terbayang, dan Abil Sonekat, bersama talenta lokal lainnya. Tak hanya para pemain, seluruh kru produksi juga merupakan sineas asli Balikpapan, menjadikan film ini sebagai karya kolaboratif influencer putra-putri daerah.
Mengangkat kisah lima pria yang merantau ke Balikpapan untuk mengadu nasib, film ini menyajikan cerita tentang perjuangan, lika-liku kehidupan, serta perubahan pola pikir setelah menghadapi berbagai ujian. Balutan komedi yang segar berpadu dengan sentuhan horor menghadirkan tontonan yang ringan, menghibur, sekaligus sarat pesan moral. Film ini dijadwalkan tayang hingga Minggu (15/2/2026).
Sejak awal pemutaran, gelak tawa penonton kerap pecah, terutama saat adegan-adegan komedi yang terasa dekat dengan keseharian. Di sela-sela humor, film ini juga memperkenalkan budaya khas Balikpapan dan sejumlah nilai lokal, termasuk kebiasaan masyarakat yang jarang menggunakan klakson serta larangan-larangan tertentu selama berada di Kalimantan.
Pemain Kerja, Apa Dikerjain?, Ben Kriswana, juga selaku sutradara, mengaku sempat diliputi keraguan terkait respons masyarakat terhadap film perdananya tersebut.
“Kami sempat bertanya-tanya, apakah film ini bisa diterima masyarakat Balikpapan atau tidak. Ternyata responsnya luar biasa. Banyak yang tertawa, bahkan ada yang ikut terharu di momen-momen sedih. Itu membuat kami sangat senang,” ujarnya usai pemutaran.
Ia menjelaskan, pesan utama film ini adalah tentang perubahan pola pikir dan mental setelah merantau. Lima tokoh utama digambarkan mengalami transformasi karakter setelah mendapatkan pelajaran hidup, hingga akhirnya kembali dengan pribadi yang lebih baik.
Terkait proses produksi, Ben mengakui adanya berbagai kendala, mengingat sebagian besar tim masih baru di dunia perfilman. Namun, berkat kerja sama yang solid, proses syuting dapat diselesaikan.
“Kami tidak memasang target jumlah penonton. Film pertama ini lebih sebagai pembelajaran. Kami ingin melihat respons masyarakat dan membuka jalan bagi film-film lokal lainnya agar bisa tayang di bioskop,” katanya.
Sementara itu, Elvin Terbayang mengungkapkan tantangan tersendiri saat menjalani proses syuting. Ia dan rekan-rekannya harus berusaha menghilangkan logat khas Balikpapan karena memerankan tokoh dari luar daerah.
“Yang paling sulit itu menahan logat. Kami terbiasa membuat konten dengan dialek Balikpapan, jadi beberapa kali harus ulang adegan karena logatnya masih terasa,” ujarnya.
Tak hanya itu, ia juga mengaku kesulitan saat menjalani adegan emosional. Untuk mendalami peran, Elvin memanfaatkan pengalaman pribadinya agar dapat menampilkan tangisan yang lebih natural.
"Saat akting sedih saat teringat almarhum bapak, makanya saya sampai nangis beneran," ucapnya terharu.
Abil Sonekat menambahkan, unsur budaya lokal sengaja dimasukkan agar terasa dekat dengan masyarakat Kalimantan. Salah satunya adalah fenomena “kepuhunan” yang dijadikan bumbu cerita, meski bukan menjadi fokus utama.
“Kami ingin menunjukkan bahwa orang yang merantau akan mengalami perubahan pola pikir dan mental setelah kembali ke kampung halaman,” jelasnya.
Aldi Sodrak pun berharap film ini dapat menjadi pintu pembuka bagi sineas dan konten kreator Balikpapan untuk terus berkolaborasi dan berkarya.
“Mudah-mudahan film ini membuka jalan bagi teman-teman kreatif lainnya. Balikpapan itu ada, Balikpapan itu bisa,” ujarnya optimistis.
“Dan buat warga Balikpapan, jangan lupa datang ke Cinepolis dan nonton Kerja, Apa Dikerjain?. Wajib!” tutup Fazri Kecap tersenyum. (lex)


