Tulis & Tekan Enter
images

Komisi Informasi Kaltim dan HMI Samarinda Gelar FGD Terkait Peran Milenial dalam Penyebaran Informasi Publik

Kaltimkita.com, SAMARINDA – Komisi Informasi (KI) Kalimantan Timur (Kaltim) bersama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Samarinda menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertemakan Peran Kaum Milenial dalam Menyikapi Keterbukaan Informasi Publik bertempat di Aula Perpustakaan Kota Samarinda, Senin (1/8/22).

Ketua Komisi Informasi Provinsi Kaltim Ramon Dearnov Saragih mengatakan, keterbukaan informasi publik merupakan hak asasi yang terikat dalam diri setiap manusia. Sehingga, seluruh masyarakat berhak meminta dan menuntut penyebaran informasi dari badan publik. Ia berpesan kepada kelompok milenial terutama yang berstatus mahasiswa untuk lebih aktif dalam penyebaran informasi publik dan memerangi ancaman hoaks. “Informasi adalah HAM yang ada didiri kalian. Siapa menguasai informasi, dia akan menguasai dunia,” kata Ramon saat membuka acara FGD.

Pelaksanaan FGD dimoderatori oleh Sencihan selaku Tim Percepatan Pembangunan Kota Samarinda. Dengan dua narasumber dari Komisi Informasi Kaltim, M. Khaidir dan Pimpinan Redaksi (Pimred) Samarinda Pos, Abdurrahman Amin. Dalam penyampaiannya Abdurrahman Amin menjelaskan, saat ini alur penyebaran informasi mayoritas didominasi oleh platform media sosial. Dibandingkan dengan arus media arus utama (media massa). Sehingga, berpotensi menyebabkan distorsi informasi atau ketidaksesuaian antara informasi yang tersebar dan informasi yang seharusnya disediakan. Hal itu karena platform media sosial dimiliki oleh setiap orang yang dapat menyebarkan informasi apa pun tanpa proses verifikasi kebenaran. “Kecenderungan masyarakat sudah mulai bergeser. Dulu orang menerima informasi dari koran dan televisi. Sekarang, orang banyak mengakses informasi dari medsos,” kata Abdurrahman yang juga Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kaltim ini.

Ia membeberkan data adanya akun palsu yang ada di banyak platform media sosial. Salah satunya pada platform instagram. Pada tahun 2019 saja, dari 1 miliar pengguna, sebanyak 10 persennya merupakan akun palsu. Sementara, di Indonesia dari 124 juta pengguna, sekitar 20 persennya atau sebanyak 25 juta pengguna merupakan akun palsu.  “Medsos faktanya seperti itu. Jadi jangan heran kalau banyak info dangkal dan tidak akurat,” Ujarnya,  (HS/ADV/Kominfo Kaltim)


TAG

Tinggalkan Komentar

//