Kaltimkita.com, BALIKPAPAN — Kelurahan Kariangau menyimpan potensi wisata alam yang masih terbuka luas untuk dikembangkan. Salah satu yang pernah digagas masyarakat adalah wisata susur sungai dan pengamatan kunang-kunang, yang menawarkan pengalaman unik menikmati suasana malam di kawasan pesisir dan muara.
Lurah Kariangau, Singgih Aji Wibowo, mengungkapkan bahwa inisiatif tersebut muncul dari ide warga yang melihat keunikan ekosistem di sepanjang aliran sungai, khususnya dari kawasan Sungai Tempadung hingga Jenebora.
“Dulu sudah sempat dijalankan. Rutenya dari sekitar Salok, menyeberang ke Sungai Tempadung atau arah Jenebora. Pengunjung bisa melihat kunang-kunang di sepanjang jalur itu,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).
Wisata ini sempat menarik perhatian sebelum pandemi COVID-19 karena menawarkan pengalaman berbeda, yakni menikmati cahaya alami kunang-kunang di tengah suasana hutan mangrove pada malam hari. Namun, pandemi membuat kegiatan tersebut terhenti akibat pembatasan mobilitas dan penurunan jumlah wisatawan.
Selain itu, perubahan kondisi lingkungan turut memengaruhi keberlangsungan wisata tersebut. Populasi kunang-kunang yang menjadi daya tarik utama dilaporkan menurun, sehingga kegiatan belum dapat diaktifkan kembali.
“Waktu itu sempat ramai, tapi setelah pandemi dan perubahan di sekitar sungai, kunang-kunangnya berkurang. Jadi belum bisa dijalankan lagi,” jelasnya.
Meski demikian, Singgih menilai potensi wisata Kariangau tidak hanya terbatas pada susur sungai. Kawasan ini juga memiliki daya tarik lain yang masih aktif, seperti jembatan kayu tua di kawasan pesisir serta akses transportasi tradisional menggunakan kapal pelotok yang menghubungkan Kariangau dengan Kampung Baru.
“Kalau ada wisatawan datang, biasanya kami arahkan ke jembatan kayu di bawah dan ke kawasan Nelayan Berdasi. Dari situ juga bisa naik kapal pelotok menuju Kampung Baru,” tuturnya.
Pemerintah kelurahan mendorong agar pengembangan wisata ke depan tetap berbasis inisiatif masyarakat. Menurutnya, konsep yang lahir dari warga cenderung lebih berkelanjutan karena sesuai dengan kondisi lokal dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Yang paling bagus itu kalau berangkat dari masyarakat. Mereka tahu wilayahnya dan bagaimana mengelolanya,” imbuhnya.
Kelurahan Kariangau juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, baik swasta maupun kelompok masyarakat, untuk menghidupkan kembali konsep wisata ekologi tersebut. Pengembangan nantinya diharapkan tetap mengedepankan kelestarian mangrove dan habitat satwa di sekitar sungai.
“Kalau ada momen yang tepat, kami siap mendukung agar wisata alam di Kariangau bisa hidup kembali,” tutup Singgih.
Dengan potensi yang dimiliki, Kariangau diyakini mampu kembali menghadirkan wisata berbasis alam yang tidak hanya menarik, tetapi juga berkelanjutan dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir. (ref)


