Kaltimkita.com, BALIKPAPAN - Kemiskinan bukanlah suatu rintangan, cinta sejati menapik semua itu untuk tetap selalu bersama-sama hingga ajal memisahkan. Inilah yang dialami nenek Seneng, warga Solok api Samboja yang tinggal di Jalan Mulawarman Transad Km 8, RT 03, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara, yang baru saja ditinggal suami tercinta untuk selama-lamanya.
Kata pertama yang kita dengar dari namanya, mungkin kita mengira ia hidup dengan bahagia, namun berbanding dengan keadaanya. Selama 20 tahun bersama almarhum suami ia hanya hidup dengan garis kemiskinan.
Siang itu Minggu (15/8/2021), tim media mendapat kesempatan bersama dengan Anggota Komisi III DPRD Kota Balikpapan Drs. Syarifuddin Oddang turun lansung melihat keadaan nenek Seneng. Oddang sapaan karibnya, selain ingin sekali menengok nenek juga sekaligus membawakan bantuan satu pickup pasir dan semen yang digunakan memperbaiki tempat tinggal nenek.
Dari gerbang Mulawarman Km 8, rombongan menelusuri jalan berkelok-kelok kurang lebih 4 Km hingga bisa menemui kediaman sang nenek. Setelah dari kendaraan, masih harus berjalan kaki lagi sepanjang 300 meter melawati tanah liat untuk melihat gubuk miliknya. Untung saja saat itu tidak hujan sehingga kami masih bisa melalui.
Setiba disana, Nenek dengan haru menyambut Oddang dan tim. Iya tinggal digubuk bersama anak keduanya, mantu, dan cucunya. Anak nenek ada 3, namun anak pertama ikut suaminya tinggal di Manggar Balikpapan Timur. Serta anak ketiga yang baru saja putus sekolah SMA karna biaya, juga ikut tinggal bersama anak pertama.
Nenek Seneng saat memperlihatkan isi gubuknya yang seadanya, dan jauh dari kata layak huni.
Setelah berkeliling melihat keadaan luarnya, Oddang pun masuk kedalam gubuk, dan melihat langsung kondisinya. Gubuk yang hanya dikelilingi oleh seng bekas, dan lantai yang separuh tanah. Dapur dimultifungsikan sekaligus tempat tidur si nenek, tidak ada kasur dan hanya satu buah bantal guling. Lantainya pun dari kayu bekas dan dindingnya juga dari plastik bekas.
Sedangkan anak, mantu dan cucunya tidur disebelahnya yang dipisahkan hanya dengan dinding plastik. Nampak kasur kapuk lama dan hanya dua buah bantal.
Keadaan dalam tersebut sangat miris, kotor dan tidak layak untuk ditempati, dapurnya saja berhamburan, cuman ada perlengkapan masak dan makan seadanya.
Setelah berbincang-bincang dengan sang nenek, Oddang pun menjelaskan kepada tim media, bahwa iya sebenarnya melalui pemerintah ingin merehab gubuk itu, akan tetapi status kepemilikan tanah masih milik orang lain. Untuk itu iya mencoba membantu agar menjadi layak huni.
"Hari ini kami membantu karena kebetulan ada rejeki sedikit. Dengan melihat keadaannya memang patut dibantu. Jadi kami berikan dinding triplek, pasir, dan semen. Kemudian nanti yang kerjakan gotong royong dari warga RT 03," urainya.
Iya juga akan membantu perpindahan status warga, lanjutnya, dikarenakan si nenek masih berstatus warga samboja dan akan dipindahkan menjadi warga Balikpapan, agar subsidi-subsidi bantuan dari pemerintah kota Balikpapan lebih mudah terakomodir ke si nenek.
"Ya, jadi nanti kami bantu untuk kepindahan statusnya sehingga bantuan dari pemerintah itu tidak sulit. Jadi jangan sampai nanti beranggapan itu tidak diperhatikan karena memang masih terkendala administrasi. Kata nenek iya sudah sempat dua kali mencoba pindah menjadi warga sini, tetapi tidak terakomodir dan kami tidak tau permasalahannya apa, tapi saya usahakan untuk bantu," jelas Politikus Hanura ini.
Mengenai anak ketiganya yang putus sekolah, Oddang berencana untuk mendaftarkannya paket, apalagi iya menilai pendidikan itu penting dan wajib belajar 12 tahun.
"Harapan kami, segera kami daftarkan ke dinas pendidikan untuk mendapatkan paket c," pungkasnya yang juga selaku ketua LPM Kelurahan Graha Indah ini.
Sementara itu ditempat yang sama, nenek Seneng mengungkapkan rasa terima kasihnya saat diberikan bantuan dan masih banyak orang peduli kepadanya.
"Terima kasih banyak, saya selalu ada yang bantu, memang keadaan saya memang begini sampai ditinggal meninggal suami saya," harunya sembari menangis.
Ia juga sedikit menceritakan kisah hidup suaminya yang dulunya hanya bekerja sebagai buruh bangunan lepas dan tiba-tiba mendadak sakit selama 2,5 tahun. Iya merawat di gubuknya sampai akhir hayatnya sambil menggantikannya bekerja dengan menjadi ART dan berkebun.
"Sebelum kutinggal kerja, makannya kucukupi dulu. Dan aku bilang, aku gak akan tinggalkan kamu kak, makan gak makan saya gak akan pernah mau pisah, kita akan terus sama-sama," kata nenek Seneng dengan mata berbinar-binar.
Iya mengaku dulunya ada bantuan beras dari pemerintah setiap bulannya, namun sekarang sudah berbeda, dia hanya menerimanya 3 bulan sekali.
"Ya syukur alhamdulillah tetap saya syukuri ada bantuan beras, terima kasih banyak saya ada yang bantu, walau tidak ada lauk, beras saja sudah cukup yang penting masih bisa makan," tutupnya. (lex)


