Tulis & Tekan Enter
images

FOTO: Turis Belanda berinisial JGS (55) sesaat hendak dipulangkan ke negara asalnya dari Balikpapan. (Ist)

Niat Berlibur Batal Usai Bikin Heboh di Bandara, Turis Belanda Dipulangkan dari Balikpapan

Kaltimkita.com, BALIKPAPAN - Seorang turis asal Belanda berinisial JGS (55) dipulangkan dari Balikpapan setelah sempat membuat keributan di Bandara SAMS Sepinggan. 

Keputusan deportasi diambil Kantor Imigrasi Kelas I Balikpapan usai memastikan kondisi kesehatan yang bersangkutan dalam keadaan stabil.

Diketahui, JGS telah berada di Balikpapan selama kurang lebih dua minggu sebelum diamankan. Ia datang ke Indonesia untuk berlibur bersama keluarganya.

Bahkan, perjalanan tersebut diduga merupakan bagian dari upaya keluarga untuk membantu proses pemulihan kesehatannya.

Kasus ini bermula dari laporan petugas bandara yang menemukan perilaku tidak wajar dari JGS hingga mengganggu ketertiban umum.

Kepala Seksi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian, Doni Purwokohadi, mengatakan pihaknya langsung bergerak begitu menerima informasi tersebut.

"Setelah menerima laporan, kami langsung melakukan pengamanan dan pemeriksaan awal terhadap yang bersangkutan," ujarnya, Rabu (15/4/2026).

Dalam proses pemeriksaan, petugas menemukan indikasi adanya gangguan kesehatan yang memengaruhi perilaku JGS. 

Temuan itu membuat penanganan tidak langsung diarahkan ke tindakan keimigrasian, melainkan melalui observasi dan pendampingan medis terlebih dahulu.

Selama empat hari berada dalam pengawasan di kantor imigrasi, kondisi JGS terus dipantau dengan melibatkan tenaga medis dan ahli kejiwaan.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan keputusan yang diambil tidak membahayakan kondisi yang bersangkutan.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, saat ini kondisinya sudah stabil. Kami juga telah melakukan konsultasi intensif dengan tenaga medis, termasuk pemberian obat sesuai dengan kebutuhan," jelas Doni.

Sebelum mendapatkan penanganan, JGS sempat menunjukkan perilaku yang memicu perhatian publik, seperti berteriak, bernyanyi tanpa sebab, hingga mencoba melepas pakaian di area umum bandara. Namun, setelah menjalani perawatan, kondisinya berangsur membaik.

“Namun, setelah mendapatkan penanganan dan pengobatan, kondisi perilakunya mulai membaik dan lebih terkendali,” tambahnya.

Setelah dinyatakan stabil, imigrasi mengambil langkah deportasi sebagai bagian dari penanganan lanjutan. Keputusan ini mempertimbangkan aspek keselamatan JGS sekaligus menjaga ketertiban umum.

Meski berujung pada deportasi, pihak imigrasi menegaskan bahwa seluruh proses dilakukan dengan pendekatan persuasif dan mengedepankan aspek kemanusiaan. 

Koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk tenaga medis, menjadi bagian penting dalam memastikan penanganan berjalan tepat. (zyn) 



Tinggalkan Komentar

//