Tulis & Tekan Enter
images

Antara Edaran Mensekneg dan Kerinduan Rakyat di Lamin Etam

Catatan Rusdiansyah Aras

DILEMA. Satu kata ini nampaknya sedang menyelimuti atmosfer di Lamin Etam, kompleks kegubernuran Kalimantan Timur. Di satu sisi, ada garis instruksi yang tegas dari Jakarta. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, baru saja menerbitkan "lampu kuning" berupa Surat Edaran yang mengimbau seluruh kementerian dan lembaga—termasuk pemerintah daerah—untuk tidak menggelar open house secara bermewah-mewahan.

Alasannya masuk akal dan membumi: empati. Bangsa ini sedang tidak dalam kondisi "pesta pora". Di berbagai sudut tanah air, saudara-saudara kita masih berjuang melawan dampak bencana alam dan kesulitan ekonomi. Mensekneg ingin para pejabat menunjukkan wajah yang prihatin, bukan wajah yang berjarak dengan rakyatnya melalui sekat-sekat kemewahan.

Namun, di sisi lain, ada realitas sosiologis yang tidak bisa diabaikan oleh seorang Gubernur Rudy Mas’ud. Di kolom komentar media sosialnya, suara warga seperti akun @aditya_pratama342 adalah representasi dari dahaga masyarakat akan figur "Ulil Amri". Mereka tidak meminta karpet merah atau hidangan kaviari; mereka hanya ingin bersalaman, bertatap muka, dan merasakan kehadiran pemimpinnya di hari yang fitri.

Momentum "Cuci Gudang" Hati

Open house di Lamin Etam kali ini memiliki nilai urgensi yang lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kita harus jujur, atmosfer politik dan sosial di Kaltim belakangan ini sempat menghangat—bahkan sedikit mendidih—akibat polemik pengadaan kendaraan dinas senilai Rp8,5 miliar. Meski kendaraan tersebut kabarnya sudah dikembalikan, residu berupa kritik tajam dan hujatan di dunia maya masih terasa jejaknya.

Inilah mengapa jawaban singkat Rudy Mas’ud, "Insya Allah," di media sosial menjadi sangat krusial.

Bagi Rudy, open house bukan sekadar ritual makan bersama. Ini adalah panggung rekonsiliasi. Ini adalah momentum tepat untuk melakukan "cuci gudang" hati pasca-polemik. Di Idulfitri 1447 H ini, Lamin Etam harus menjadi ruang terbuka di mana kritik yang kemarin tajam berubah menjadi jabat tangan yang erat. Warga yang kemarin emosional di kolom komentar, kini bisa menyampaikan aspirasinya (atau maafnya) secara langsung. Sebaliknya, Gubernur memiliki kesempatan emas untuk merangkul kembali warganya tanpa sekat protokoler yang kaku.

Menimbang Jalan Tengah

Lantas, bagaimana menjembatani instruksi Mensekneg dengan ekspektasi warga?

Kuncinya adalah substansi, bukan selebrasi. Imbauan Mensekneg adalah melarang "bermewah-mewahan", bukan melarang silaturahmi. Rudy Mas’ud bisa mengambil jalan tengah yang elegan: tetap membuka pintu Lamin Etam namun dengan kemasan yang bersahaja.

Pertama, menu yang disajikan bisa berupa kuliner lokal yang merakyat, menonjolkan kearifan lokal Kaltim ketimbang kemewahan hotel berbintang.

Kedua, pengaturan alur massa yang humanis namun tetap tertib, sehingga kesan "pesta" berubah menjadi kesan "pengajian" atau doa bersama untuk keselamatan daerah.

Gubernur salat Id di Islamic Center Samarinda sebelum menyapa warga adalah langkah awal yang tepat untuk menunjukkan bahwa ia adalah bagian integral dari masyarakat Samarinda dan Kaltim pada umumnya.

Penutup

Pemimpin yang bijak adalah ia yang mampu menyeimbangkan antara kepatuhan kepada atasan (pemerintah pusat) dan kesetiaan kepada rakyatnya. Surat Edaran Mensekneg harus dipatuhi sebagai bentuk disiplin nasional, namun kerinduan warga untuk bersua pemimpinnya adalah mandat sosial yang tidak boleh diputus.

Idulfitri kali ini bukan soal seberapa megah tenda di Lamin Etam berdiri, tapi seberapa luas hati sang Gubernur terbuka untuk menerima kembali rakyatnya—termasuk mereka yang kemarin paling keras mengkritiknya. Mari kita jadikan open house ini sebagai garis start baru untuk membangun Kaltim tanpa beban masa lalu.

Selamat merayakan kemenangan, selamat saling memaafkan.(rd)


TAG Idulfitri

Tinggalkan Komentar

//