Tulis & Tekan Enter
images

FOTO: Salah satu toko kelontong di Balikpapan yang menjajakan LPG subsidi seharga Rp65 ribu per tabung.

Sukar Dicari saat Lebaran, LPG Melon di Pengecer Balikpapan Capai Rp65 Ribu per Tabung

Kaltimkita.com, BALIKPAPAN - Keberadaan LPG subsidi relatif sulit dicari saat momentum Lebaran 2026 di Balikpapan. 

Di sejumlah titik--pada hari pertama misalnya, LPG melon di tingkat pengecer nyaris sulit didapatkan karena kosong. Seperti di kawasan Pasar Sepinggan. 

Beberapa pengecer mengaku tak memiliki stok untuk dijajakan kembali ke masyarakat. 

Pantauan di bilangan Jalan Sepinggan Baru, seorang pengecer tampak mangkal di pinggir jalan menggunakan sepeda motor yang dimodifikasi untuk mengangkut beberapa tabung LPG subsidi.

Tabung-tabung berwarna hijau itu diletakkan di sisi kiri dan kanan kendaraan, siap ditebus oleh warga yang melintas.

Pengecer itu, Samsudin, mengaku menjual LPG subsidi seharga Rp50 ribu per tabung. Namun, ia menegaskan harga tinggi bukan sepenuhnya berasal dari dirinya.

"Saya cuma ambil untung Rp5 ribu, jauh ambilnya di Batakan," ujarnya, dikutip Minggu (22/3/2026). 

Ia mengaku tidak melayani penjualan ke toko atau pengecer lain, melainkan hanya menjual langsung ke masyarakat. 

Sebab sebelumnya, LPG miliknya sempat hendak diborong oleh pengecer lain berupa toko kelontong. "Tidak (jual) ke toko, ke orang-orang saja. Kasihan kalau ada yang susah cari (LPG subsidi)," katanya.

Saat media ini menelusuri toko kelontong yang dimaksud, toko tersebut rupanya masih memiliki stok LPG subsidi yang dipajang depan toko. Lokasinya tidak jauh dari BLK Balikpapan. 

Ada dua buah LPG subsidi bersegel yang ditumpuk seakan menjadi isyarat bagi pembeli bahwa stok masih tersedia. 

Panggil saja pedagangnya Aisyah. Saat ditanya, dia mengaku membanderol harga Rp65 ribu seraya menuturkan bahwa pasokan sedang sulit. "Tadi malam belum datang lagi," singkat Aisyah.

Diketahui, Dinas Perdagangan Kota Balikpapan hanya memiliki dua petugas untuk mengawasi distribusi LPG subsidi. 

Sementara itu, jumlah pangkalan yang harus dipantau mencapai 725 unit yang tersebar di seluruh wilayah kota.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perdagangan Balikpapan, Muhammad Anwar, menegaskan bahwa kondisi ini membuat pengawasan tidak bisa berjalan optimal tanpa dukungan warga.

Ia mendorong warga tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pengawas aktif di lingkungan masing-masing. Menurutnya, laporan masyarakat selama ini terbukti efektif membantu mengungkap pelanggaran di lapangan.

Anwar menyebut, beberapa kasus penjualan di atas harga eceran tertinggi (HET) maupun dugaan penimbunan berhasil ditindak setelah adanya laporan warga yang dilengkapi bukti.

Warga yang menemukan indikasi pelanggaran diminta segera melapor melalui akun Instagram resmi Dinas Perdagangan Balikpapan. Ia menekankan pentingnya bukti visual seperti foto atau video agar laporan dapat diverifikasi dengan cepat.

"Kalau ada pangkalan atau warung menjual di atas HET Rp19 ribu atau menimbun, laporkan dengan bukti. Itu sangat membantu kami untuk langsung tindak lanjuti," ujarnya.

Selain jalur tersebut, lanjut Anwar, masyarakat juga bisa mengadukan temuan melalui layanan resmi Pertamina di nomor 135 yang memang disiapkan untuk menerima laporan terkait distribusi LPG bersubsidi.

Pengawasan ini menjadi semakin krusial sejak menjelang Idulfitri. Pada periode tersebut, konsumsi LPG rumah tangga cenderung meningkat tajam, sehingga permintaan gas melon ikut melonjak.

Situasi ini membuat pengawasan berbasis partisipasi publik menjadi strategi yang tak terhindarkan. 

Anwar berharap keterlibatan warga bisa menjaga distribusi tetap tepat sasaran, khususnya bagi masyarakat yang berhak menerima subsidi.

"Kalau ada pelanggaran, langsung laporkan. Dengan kerja sama masyarakat, distribusi LPG subsidi bisa lebih terkontrol," tutup Anwar. (zyn)



Tinggalkan Komentar

//