Oleh: Rusdiansyah Aras
HARI ini, suasana khidmat menyelimuti kampus Merah Putih, Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Samarinda. Sebuah babak baru dimulai dengan dilantiknya jajaran rektorat untuk masa bhakti 2026-2029. Estafet kepemimpinan kini resmi berada di pundak Bapak Zuhdi Yahya sebagai Rektor, didampingi oleh Ibu Evi Kurniasari Purwaningrum (Wakil Rektor I), Bapak Tukimun (Wakil Rektor II), dan Bapak Legowo K (Wakil Rektor III).
Prosesi pelantikan yang dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan 17 Agustus 1945 Samarinda ini bukan sekadar seremoni formalitas, melainkan sebuah kontrak moral di hadapan manusia dan Tuhan.
Kepemimpinan adalah Pertanggungjawaban
Dalam sambutannya yang menggugah, Ketua Dewan Pembina, Prof. Budi Djatmiko, menekankan pesan mendalam: "Hari ini adalah hari yang baik." Namun, di balik kebaikan itu, terselip peringatan keras bahwa setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya, baik di dunia maupun di akhirat.
Beliau membagikan kisah inspiratif sekaligus reflektif saat dirinya menjadi rektor di usia muda, 27 tahun, dan bagaimana pada tahun 2014 ia menggalang para ketua yayasan untuk membina kampus-kampus yang hampir kolaps. Pesannya jelas: pemimpin harus hadir sebagai solusi, bukan beban.
Menghindari "Dosa" Manajerial
Satu hal yang sangat menarik perhatian adalah pemaparan mengenai "Dosa CEO dan Rektor". Dari 27 poin dosa manajerial, ditekankan bahwa seorang pemimpin harus mampu memangkas ketidakefisienan hingga titik terkecil.
Beberapa poin krusial yang ditekankan adalah:
Kepekaan terhadap Kinerja: Pemimpin wajib mengetahui detail kinerja anak buahnya. Tanpa pengawasan dan pemahaman di lapangan, kebijakan akan salah sasaran.
Sistem Penjaminan Mutu (SPM): Inilah jantung dari kemajuan universitas. Jika Rektor hingga Dekan tidak mengerti sistem penjaminan mutu, maka kampus dipastikan akan jalan di tempat.
Kemampuan Mengukur Mutu: Kampus tidak akan maju jika pemimpinnya tidak mampu mengukur mutu akademiknya sendiri secara objektif.
Harapan untuk UNTAG Samarinda
Membangun kampus yang bermutu bukan sekadar mengejar akreditasi di atas kertas, melainkan membangun ekosistem pendidikan yang sehat, transparan, dan akuntabel. Dengan komposisi kepemimpinan yang baru ini, kita berharap UNTAG Samarinda mampu berlari lebih kencang.
Kepemimpinan Bapak Zuhdi Yahya diharapkan mampu menerjemahkan visi besar yayasan ke dalam aksi nyata, memastikan setiap lini di UNTAG mengerti bahwa mutu adalah harga mati.
Selamat bertugas kepada Rektor dan para Wakil Rektor. Semoga amanah ini menjadi ladang ibadah dan membawa kemajuan nyata bagi dunia pendidikan di Kalimantan Timur.(rd)


