Catatan: Rusdiansyah Aras
PEMANDANGAN di Kadaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Tenggarong, hari ini bukan sekadar pertemuan formal antara pejabat negara dan tokoh adat. Ia adalah sebuah fragmen berharga tentang adab, kerendahan hati, dan nilai "Tabayun" yang mulai langka di panggung politik kita.
Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, hadir bersama istri tercinta, Bunda Harum. Langkah mereka mantap namun penuh takzim. Begitu bertemu Sultan Kutai, sebuah gestur sederhana namun sarat makna terjadi: Gubernur mengucapkan salam dan mencium tangan Sultan dengan penuh penghormatan. Di sana, posisi jabatan sejenak melebur menjadi hubungan antara "Ananda" dan orang tua.
Keberanian Meminta Maaf
Kedatangan Gubernur Rudy bukan tanpa sebab. Beliau datang membawa jiwa besar untuk menyampaikan permohonan maaf atas kekhilafan protokol terkait penempatan posisi Sultan saat peresmian RDMP Kilang Minyak Balikpapan oleh Presiden Prabowo Subianto beberapa waktu lalu.
Satu hal yang luar biasa adalah keberanian beliau untuk mengakui kesalahan secara langsung. Gubernur Rudy menyatakan:
"Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung."
Kalimat ini bukan sekadar pepatah, melainkan komitmen. Beliau menegaskan telah melakukan introspeksi mendalam dan memerintahkan jajarannya agar kejadian serupa tidak boleh terulang kembali di masa depan. Ini adalah pelajaran bagi seluruh birokrasi bahwa menghargai entitas adat adalah bagian dari menjaga martabat daerah.
Pesan Mendalam dari Sultan
Sultan Kutai menyambut niat baik ini dengan hangat dan penuh kasih sayang. Beliau menyampaikan terima kasih atas perhatian tulus dari "Ananda" Rudy Mas’ud. Namun, di balik senyum bijaknya, Sultan menitipkan pesan penting sebagai pengingat bagi kita semua.
Beliau mengungkapkan bahwa kejadian kurang tepatnya penempatan posisi protokol ini sudah terjadi dua kali—pertama saat kunjungan Presiden ke-7 Joko Widodo, dan kini kembali terulang. Harapan beliau jelas: Cukup ini yang terakhir.(rd)


