Tulis & Tekan Enter
images

Menakar Arah Baru KONI Balikpapan

Oleh : Andi Ahmad Sanusi

President Director Inkorincorp Ocean Global

Komisaris PT Inkorincorp Filcocean Investama

Wakil Ketua Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Balikpapan

KaltimKita.com - Pelantikan pengurus baru KONI Kota Balikpapan periode 2025–2029 di bawah komando Gasali berlangsung rapi. Ramai. Penuh senyum. Itu pertanda baik. tapi belum jawaban.

Di dunia olahraga, yang paling sering keliru bukan niat, melainkan keyakinan bahwa niat saja cukup.

Balikpapan sudah lama punya atlet. Sudah lama punya potensi. Bahkan kontribusi atletnya terhadap prestasi Kalimantan Timur di level nasional tidak kecil. Tetapi satu hal yang tak pernah benar-benar dimiliki kota ini adalah organisasi olahraga yang stabil dan fokus jangka panjang.

Kepengurusan sebelumnya memberi pelajaran penting: konflik internal lebih cepat menghabiskan energi daripada latihan fisik. Mosi tidak percaya, tarik-menarik kepentingan, dan kevakuman kepemimpinan membuat KONI lebih sibuk mengurus dirinya sendiri dari pada mengurus atlet.

Di titik itulah kepengurusan baru ini lahir. Gasali datang dengan modal yang tidak kecil: dukungan mayoritas cabang olahraga, pengalaman organisasi, dan - ini yang penting -akses politik dan pemerintahan. Ia paham satu hal mendasar, olahraga tidak bisa hidup dari semangat saja. Ia perlu anggaran, sistem, dan keberanian mengatur ulang kebiasaan lama.

Pertanyaannya sederhana: apakah ini akan berbeda? Tanda awalnya cukup menjanjikan.

Pertama, legitimasi. Terpilih secara aklamasi bukan sekadar prosedur, tapi sinyal bahwa mayoritas cabor ingin berhenti bertengkar dan mulai bekerja. Kedua, orientasi. Target juara umum Porprov 2026 bukan janji kecil. Itu menuntut pembinaan serius, bukan seremoni.

Ketiga, pendekatan. Penekanan pada sinergi pemerintah dan CSR menunjukkan kesadaran bahwa APBD tidak boleh menjadi satu-satunya sandaran. Namun justru di sinilah ujiannya.

Banyak kepengurusan KONI di berbagai daerah gagal bukan karena tidak punya rencana, tapi karena tidak berani menegakkan disiplin organisasi. Atlet dituntut berprestasi, sementara pengurus bebas tidak konsisten. Cabang olahraga diminta taat, sementara distribusi perhatian dan anggaran sering kabur.

Jika kepengurusan ini ingin benar-benar membawa Balikpapan maju, ada tiga hal yang tak bisa ditawar. Pertama, prestasi atlet harus jadi pusat segalanya, bukan jabatan pengurus.

Kedua, tata kelola harus rapi walau tidak semua senang. Ketiga, sinergi dengan pemerintah dan dunia usaha harus menghasilkan fasilitas dan program nyata, bukan hanya foto penandatanganan.

Olahraga tidak butuh patron yang gemar tampil. Ia butuh orang-orang yang mau bekerja dalam diam, konsisten, dan tahan dikritik.

Balikpapan sedang diberi kesempatan baru. Bukan karena pengurusnya baru. Tapi karena publiknya kini lebih sadar: prestasi tidak lahir dari jargon, melainkan dari manajemen yang berani rapi.

Kepengurusan baru ini punya kesempatan langka: memulai dari nol tanpa harus membela masa lalu. Tinggal satu pertanyaan kecil yang akan dijawab oleh waktu:

Apakah KONI Balikpapan kali ini akan sibuk mengurus atlet. Atau kembali sibuk mengurus KONI?. (*)


TAG

Tinggalkan Komentar

//