Tulis & Tekan Enter
images

FOTO: Kepala Cabang PT Rifan Financindo Berjangka Balikpapan, Lydia Chandra.

Potensi Harga Emas Dunia Terbang ke USD 6.000 Imbas Konflik Timur Tengah, Pialang di Balikpapan Catat Kenaikan Investor hingga 40 Persen

Kaltimkita.com, BALIKPAPAN – Dinamika geopolitik global antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kini berdampak sistemik terhadap instrumen investasi safe haven di pasar berjangka.

Kepala Cabang PT Rifan Financindo Berjangka Balikpapan, Lydia Chandra, memaparkan bahwa eskalasi di Timur Tengah menjadi katalis yang mendorong lonjakan harga emas (XAU) dan minyak dunia pada periode awal 2026.

Kondisi pasar saat ini mencatatkan fenomena yang tidak biasa dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Berdasarkan data pergerakan pasar, harga emas dunia telah mengalami kenaikan rata-rata sekitar 70 hingga 80 persen hanya dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Angka ini tercatat sebagai lonjakan harga terbesar yang pernah terjadi dalam siklus 20 tahun terakhir di industri perdagangan berjangka.

Lydia menjelaskan bahwa keterlibatan Amerika dalam berbagai konflik internasional, khususnya ketegangan terbaru dengan Iran, memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap psikologi pasar.

Salah satu pemicu volatilitas yang paling diwaspadai oleh para pelaku pasar adalah ancaman penutupan Selat Hormuz oleh pihak Iran.

Selat tersebut merupakan jalur perdagangan energi vital, sehingga setiap isu penutupan jalur tersebut langsung memicu kenaikan harga emas dan minyak secara simultan.

“Ancaman penutupan Selat Hormuz ini sempat terjadi kemarin, dan itu membuat harga emas naik cukup signifikan,” kata Lydia, dikutip Minggu (15/3/2026).

Ia menambahkan bahwa pergerakan harga komoditas saat ini memang sangat bergantung pada tensi politik luar negeri, di mana emas selalu menjadi pilihan utama investor untuk mengamankan aset di tengah ketidakpastian global yang terjadi saat ini.

Meskipun harga emas sempat menyentuh rekor tertinggi di angka USD5.600 per troy ounce, saat ini pasar sedang mengalami fase koreksi teknis.

Kemudian harga emas sempat bergerak di kisaran USD 5.096-5.100 per troy ounce. “Koreksi 10 sampai 20 persen itu sebenarnya masih sangat normal,” ucap Lydia.

Selain faktor geopolitik, kebijakan moneter dari Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, menjadi instrumen kedua yang paling diperhatikan oleh para investor global. Keputusan mengenai suku bunga selalu menciptakan gejolak harga yang besar pada perdagangan XAU.

Sebagai perbandingan, pada tahun lalu, suku bunga dipotong sebanyak tiga kali, yang menjadi salah satu faktor fundamental pendorong meroketnya harga emas hingga menembus angka di atas Rp2 juta per gram.

Untuk kalender tahun 2026, pelaku pasar masih menanti apakah The Fed akan kembali mengambil kebijakan pemotongan suku bunga atau tidak.

Secara historis, menurut Lydia, setiap kali suku bunga dipotong, harga emas cenderung mendapatkan dorongan kuat untuk bergerak naik atau bullish.

Hal inilah yang mendasari optimisme bahwa dalam jangka panjang, harga emas masih berpotensi besar untuk menembus level yang jauh lebih tinggi lagi dari posisi saat ini.

“Targetnya di tahun ini bisa sampai ke 6.000 dolar per troy ounce,” ujar Lydia.

Proyeksi ini didasarkan pada akumulasi sentimen dari sisi keamanan global dan potensi pelonggaran moneter di Amerika Serikat.

Lonjakan harga di pasar dunia ini berbanding lurus dengan perubahan perilaku masyarakat dalam berinvestasi. Lydia mengonfirmasi bahwa saat ini emas fisik mulai mengalami kelangkaan di pasaran.

Kondisi kelangkaan ini bahkan menyebabkan harga emas fisik di tingkat retail berada di luar batas harga normal atau tidak lagi mengikuti acuan harga dasar yang seharusnya ada di pasar. “Emas fisik saat ini bisa dibilang sangat langka di pasaran,” tutur Lydia.

Fenomena kelangkaan emas fisik ini kemudian mendorong masyarakat untuk mulai melirik investasi di pasar berjangka yang menggunakan acuan harga emas dunia secara langsung.

Hal ini tercermin dari pertumbuhan jumlah investor yang masuk ke PT Rifan Financindo Berjangka selama setahun terakhir.

Sepanjang tahun 2025, tercatat adanya kenaikan jumlah investor dibandingkan dengan perolehan nasabah pada tahun 2024. “Peningkatannya sekitar 30 sampai 40 persen,” sebut Lydia.

Masyarakat dan nasabah dinilai sudah semakin teredukasi mengenai potensi investasi emas melalui berbagai informasi yang sudah dibaca oleh pasar, baik terkait eskalasi di Timur Tengah maupun kebijakan pemerintah.

Koreksi harga yang terjadi saat ini justru dipandang sebagai peluang masuk atau entry point bagi para investor. Lydia menegaskan bahwa harga emas tidak mungkin bergerak naik secara linear tanpa adanya fluktuasi.

Fase koreksi ini dianggap sebagai bagian dari proses konsolidasi pasar sebelum harga kembali mencoba menembus rekor tertinggi baru di masa depan yang diprediksi lebih ekstrem. “Harga emas tidak mungkin naik dalam satu garis lurus,” ucap Lydia.

Ia melihat bahwa penurunan harga sementara ini merupakan momentum untuk mengambil posisi sebelum harga kembali melambung. “Koreksi ini adalah bagian dari proses untuk naik lebih tinggi,” tambahnya.

Meskipun peluang kenaikan sangat besar, Lydia tetap mengingatkan adanya faktor risiko yang melekat pada setiap transaksi.

Investasi di pasar berjangka, kata Lydia, membutuhkan pemahaman mendalam mengenai volatilitas. “Namanya jual beli pasti ada risiko,” kata Lydia.

Dia menekankan, perusahaan pialang terus berupaya memberikan edukasi agar nasabah memahami bahwa pergerakan harga sangat dinamis dan dipengaruhi oleh banyak variabel global yang saling berkaitan.

Pada akhirnya, meskipun analisis teknikal dan fundamental menunjukkan sinyal positif, keputusan akhir tetap berada di tangan masing-masing nasabah.

Perusahaan hanya berfungsi memberikan analisis pasar berdasarkan fakta-fakta internasional. “Keputusan tetap berada di tangan nasabah atau investor,” tutup Lydia. (zyn)



Tinggalkan Komentar

//