Tulis & Tekan Enter
images

Lurah Baru Ilir, Junaidi.

Edukasi Jadi Kunci, Baru Ilir Bangun Bank Sampah Berbasis Partisipasi Warga

Kaltimkita.com, BALIKPAPAN – Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat, tidak hanya membangun infrastruktur bank sampah, tetapi juga menitikberatkan pada perubahan perilaku masyarakat sebagai kunci utama pengelolaan sampah berkelanjutan.

Langkah ini diwujudkan melalui pembangunan tiga bank sampah di RT 52, RT 48, dan RT 63, sebagai bagian dari target enam bank sampah yang dicanangkan untuk setiap kelurahan. Program ini diharapkan mampu mengurangi beban sampah yang selama ini menumpuk di TPA Manggar.
Lurah Baru Ilir, Junaidi, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh fasilitas, tetapi juga kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.

“Yang paling penting itu perubahan pola pikir. Kalau masyarakat sudah terbiasa memilah sampah, maka pengelolaan di hilir akan jauh lebih mudah,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).

Bangun Kebiasaan, Bukan Sekadar Fasilitas
Menurut Junaidi, pendekatan yang dilakukan tidak instan. Pemerintah kelurahan secara bertahap melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada warga, khususnya di sekitar lokasi bank sampah.

Edukasi ini mencakup pemisahan sampah organik dan anorganik, hingga pemahaman bahwa sampah memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik.
Bank sampah pun dirancang sebagai ruang belajar sekaligus pusat aktivitas warga dalam mengelola sampah. Masyarakat diajak untuk aktif menabung sampah anorganik seperti plastik dan kertas, yang kemudian dikonversi menjadi nilai rupiah.

Program ini juga melibatkan kelompok Program Kampung Iklim (Proklim) Semangat Membangun Ilir-Ilir (Semilir) sebagai motor penggerak di lapangan. Komunitas ini berperan dalam mengedukasi, mendampingi, serta memastikan aktivitas bank sampah berjalan konsisten.

Melalui kolaborasi ini, diharapkan terbentuk budaya gotong royong dalam menjaga lingkungan, sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap isu sampah.
“Peran komunitas sangat penting. Mereka yang langsung bersentuhan dengan warga dan bisa menjadi contoh dalam pengelolaan sampah,” jelasnya.

Selain mengurangi volume sampah ke TPA, program ini juga mendukung konsep lingkungan berkelanjutan. Sampah organik diolah menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan untuk urban farming, sementara sampah anorganik didaur ulang atau dijual kembali.
Kelurahan Baru Ilir optimistis, dengan pendekatan berbasis edukasi dan partisipasi, target enam bank sampah dapat tercapai dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan maupun kesejahteraan masyarakat.

“Harapannya, ini menjadi gerakan bersama. Lingkungan bersih, masyarakat juga mendapatkan manfaat ekonomi,” tutup Junaidi.(ref)



Tinggalkan Komentar

//