Kaltimkita.com, BALIKPAPAN- Deselinasi air Payau di Balikpapan Barat menjadi bagian dari rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan dalam mengatas peemasalahan air bersih.
Hal ini diungkapkan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Penelitan dan Pengembangan (Bappeda Litbang) Balikpapan, Murni. Dia mengatakan, langkah tersebut diambil untuk mengatasi krisis air baku di Balikpapan.
"Selain itu, juga mengingat semakin besarnya jumlah defisit air, terutama setelah perpindahan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kaltim. Itu membuat lonjakan penduduk cukup tajam di Balikpapan, sehingga membuat kebutuhan air juga meningkat," ujar Murni, Senin (24/6/2024).
Murni menerangkan la membeberkan, defisit air mulai terasa dalam kurun waktu 3 tahun terakhir.
Dengan adanya jumlah pendatang yang semakin besar, tumbuhnya kebutuhan hunian membuat kebutuhan air turut meningkat.
menyampaikan bahwa pada tahun 2022 lalu, defisit air masih berkisar sekitar 600 liter per detik.
Kemudian menjadi 800 liter per detik pada 2023. Adapun kini defisit air baku mencapai 900 liter per detik.
"Untuk menutupi kebutuhan ini sama saja seperti perlu membangun Waduk Manggar yang memiliki kapasitas 1.100 liter per detik," tandasnya.
Murni menambahkan, pada 2030 mendatang defisit air bahkan diperkirakan mencapai 1.600 liter per detik. Hal itu berdasarkan proyeksi jumlah penduduk yang dilakukan perumda tirta manuntung Balikpapan (PTMB).
Demikian dengan Embung Aji Raden yang kini masih dalam proses pembebasan lahan yang membutuhkan waktu tidak sebentar, mengingat proses ini melibatkan lahan orang lain.
Meski demikian, pemerintah daerah harus melakukan tahap pembebasan lahan terlebih dahulu, yang memakan waktu cukup lama hingga benar-benar rampung, sehingga rencana dapat berjalan sesuai harapan. (lex)


