Tulis & Tekan Enter
images

Dari Kuliner hingga Pawai Budaya, Pasar Pringgodani Hidupkan Ekonomi Warga

Kaltimkita.com, BALIKPAPAN – Pasar Pringgodani yang berada di kawasan Gunung Binjai, Kelurahan Tritip, Balikpapan Timur, terus mengukuhkan diri sebagai salah satu destinasi wisata kuliner dan budaya unggulan di Kota Balikpapan. 

Setiap akhir pekan dan hari libur nasional, kawasan ini ramai dipadati ribuan pengunjung dari berbagai daerah di Kalimantan Timur.

Supervisor Pasar Pringgodani, David, mengungkapkan bahwa lonjakan pengunjung paling terasa pada hari Sabtu, Minggu, dan tanggal merah. Khusus pada hari Minggu, jumlah pengunjung bisa mencapai 2.000 hingga 3.000 orang sejak pasar dibuka pukul 07.00 hingga 16.00 Wita.

“Pengunjung tidak hanya berasal dari Balikpapan, tetapi juga dari Samarinda, Tenggarong, Bontang, Penajam, hingga daerah lain di Kalimantan Timur,” ujar David, Minggu (1/2/2026).

Menurutnya, daya tarik utama Pasar Pringgodani terletak pada konsep budaya Nusantara yang diusung secara konsisten. Pada pekan pertama setiap awal bulan, pengelola rutin menggelar agenda khusus bertajuk Pasar Keramat atau Keragaman Nusantara. Dalam kegiatan tersebut, seluruh pedagang dan kru diwajibkan mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.

“Dulu lebih identik dengan adat Jawa, sekarang kami kembangkan menjadi Nusantara. Ada pakaian adat Bugis, Jawa, dan daerah lainnya. Bahkan dilengkapi pawai budaya serta tarian yang berkeliling area pasar,” jelasnya.

Konsep tersebut dihadirkan sebagai ruang nostalgia budaya bagi masyarakat Balikpapan yang berasal dari berbagai daerah. Berdasarkan data pengelola, sekitar 40 persen warga Balikpapan memiliki latar belakang Jawa, sehingga Pasar Peringgodani menjadi tempat melepas rindu kampung halaman tanpa harus pulang ke daerah asal.

Selain konsep budaya, sistem transaksi di Pasar Pringgodani juga menjadi keunikan tersendiri. Pengunjung dapat menggunakan uang kayu sebagai alat tukar utama yang terdaftar dalam sistem internal pasar. Meski demikian, pengelola tetap menyediakan opsi pembayaran tunai sebagai alternatif.

Saat ini, ratusan pedagang kuliner terlibat dalam aktivitas pasar. Seluruh pedagang berasal dari tujuh RT yang masuk dalam Surat Keputusan Kampung Wisata, yakni RT 12, 13, 14, 15, 16, 27, dan 47. Pasar ini juga memberdayakan sekitar 50 kru operasional yang seluruhnya mengenakan busana tradisional sesuai dengan konsep pasar.

“Sejak mulai beroperasi pada 2022, dampak ekonominya sangat terasa. Bukan hanya pedagang, tetapi kru dan masyarakat sekitar ikut merasakan manfaatnya,” tutur David.

Keberadaan Pasar Pringgodani juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Balikpapan. Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Balikpapan, Ratih Kusuma, menilai Pasar Peringgodani sebagai salah satu contoh pengembangan destinasi wisata berbasis masyarakat yang patut diapresiasi.

“Pasar Pringgodani ini bukan hanya soal kuliner, tapi juga pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat lokal. Konsepnya sejalan dengan pengembangan pariwisata Balikpapan yang berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal,” ujar Ratih.

Ia menambahkan, Disporapar Balikpapan akan terus mendorong dan mendukung pasar-pasar tematik seperti Pringgodani agar dapat berkembang secara konsisten, tertata, dan menjadi daya tarik wisata baru.

“Kami berharap Pasar Peringgodani bisa menjadi ikon wisata budaya dan kuliner Balikpapan Timur, sekaligus menggerakkan ekonomi warga sekitar,” tutupnya. (rep)



Tinggalkan Komentar

//