Kaltimkita.com, SAMARINDA - Di tepian Sungai Mahakam, sebuah tambangan terikat diam di dermaga Pasar Pagi. Mesin sesekali dinyalakan bukan karena penumpang datang, melainkan agar tetap hidup. Di Samarinda yang terus bergerak maju, perahu kayu itu justru seperti tertinggal.
Jam menunjukkan pukul 10.30 Wita. Matahari sudah cukup tinggi, tetapi bangku-bangku panjang di dalam tambangan masih kosong. Hanya satu penumpang duduk di ujung, memandang air yang mengalir pelan. Suara mesin tua terdengar serak, tersendat seperti napas yang dipanjangkan paksa, nyaris tenggelam oleh deru kendaraan.
“Sekarang begini hampir tiap hari. Kadang satu jam belum ada orang,” kata Hasan (56), pengemudi tambangan yang telah bekerja sejak usia remaja.
Perahu yang ia kemudikan terbuat dari kayu ulin, panjangnya sekitar 18 meter dengan lebar 2,5 meter. Bangku-bangku kayu tersusun saling berhadapan, Dulu, perahu seperti ini hampir tak pernah berhenti beroperasi.
“Kalau dulu, belum penuh 15 orang saja tidak jalan. Sekarang? Kadang dua orang pun tetap berangkat,” ujarnya, tersenyum tipis.
Hasan mengusap kemudi kayu yang mulai retak. Tangannya yang keriput bergerak pelan, seolah merawat sesuatu yang lebih dari sekadar alat kerja.
“Dulu, sebelum matahari tinggi, penumpang sudah antre,” katanya lirih.
Sebelum 1980-an, tambangan adalah urat nadi transportasi di Samarinda. Dari Dermaga Pasar Pagi, perahu-perahu ini menghubungkan warga ke Samarinda Seberang, Sungai Keledang, Padaelo, hingga Mangkupalas. Sungai bukan sekadar bentangan air, melainkan jalan utama kehidupan.
Hasan masih mengingat masa itu dengan jelas. Orang-orang berdiri rapat di dermaga: ibu-ibu membawa keranjang belanja, buruh pelabuhan, anak sekolah. Sekali jalan, perahu bisa mengangkut 20 orang.
“Kadang orang harus nunggu perahu berikutnya,” kenangnya.
Namun segalanya berubah pada 1987, ketika Jembatan Mahakam diresmikan oleh Soeharto. Jembatan itu membuka akses darat yang lebih cepat dan praktis, menghubungkan dua sisi kota tanpa harus menunggu perahu.
Perubahan itu tak langsung terasa, tetapi pasti. Kendaraan bermotor mulai mendominasi jalanan. Terminal yang dulu berada di Samarinda Seberang dipindahkan ke Sungai Kunjang. Tambangan perlahan kehilangan penumpangnya.
“Anak-anak sekarang sudah tidak banyak yang kenal tambangan, Mereka lebih pilih motor atau mobil.'' Kata Hasan.
Di dermaga, beberapa pengemudi tambangan duduk berjejer. Mereka berbincang ringan untuk mengusir bosan, sesekali melirik ke arah jalan, berharap ada penumpang yang datang.
Hasan mengaku penghasilannya kini jauh menurun.
“Kalau dulu bisa Rp200 ribu sampai Rp300 ribu sehari. Sekarang? Kadang Rp50 ribu saja susah,” ujarnya.
Tarif tambangan sebenarnya tetap terjangkau, berkisar Rp5.000 hingga Rp20.000. Namun murahnya ongkos tak lagi cukup untuk bersaing dengan kecepatan dan kenyamanan transportasi darat.
“Bukan soal harga lagi. Orang sekarang cari yang cepat dan praktis,” kata Hasan.
Sebagian besar penumpang yang tersisa adalah mereka yang tak punya pilihan lain atau mereka yang masih setia pada cara lama.
Sepinya tambangan bukan hanya soal berkurangnya pengguna, tetapi juga tentang perlahan hilangnya ruang sosial.
Bangku-bangku kosong itu seperti menyimpan gema percakapan yang pernah ada. Dulu, perjalanan singkat melintasi sungai bisa menjadi ruang berbagi cerita. Kini, yang terdengar hanya suara mesin dan riak air.
“Dulu di sini ramai, orang ngobrol, bercanda. Sekarang lebih banyak diam,” ujar Hasan.
Menjadi kemudi tambangan pun bukan perkara sederhana. Ada keterampilan membaca arus, memahami angin, dan mengenali perubahan air pengetahuan yang diwariskan dari pengalaman, bukan buku.
“Kalau air pasang, cara bawa perahu beda. Kalau arus deras, harus tahu sudutnya. Kalau salah, bisa hanyut,” kata Hasan.
Namun pengetahuan itu kini terancam hilang. Anak-anak mereka tak lagi tertarik melanjutkan pekerjaan ini.
“Anak saya tidak ada yang mau lanjut. Mereka bilang capek, hasilnya sedikit,” ujarnya.
Meski kondisi semakin sulit, para pengemudi tambangan tetap bertahan. Bagi mereka, meninggalkan tambangan bukan sekadar soal pekerjaan, tetapi juga soal identitas.
“Ini sudah dari dulu. Mau pindah kerja juga tidak mudah di usia sekarang,” kata Hasan.
Sebagian berharap ada perhatian lebih dari pemerintah baik dalam bentuk subsidi, revitalisasi, maupun pengembangan sebagai wisata sungai.
“Kalau dijadikan wisata, mungkin orang datang lagi. Bukan hanya untuk menyeberang, tapi merasakan suasananya,” pungkasnya.
Di beberapa kesempatan, tambangan memang masih hadir dalam acara adat atau festival budaya. Di sana, ia kembali hidup sebagai simbol penghubung masa lalu dan masa kini. Namun dalam keseharian, perannya semakin menyempit.
Di atas Jembatan Mahakam, kendaraan melaju tanpa henti cepat, efisien, modern.
Di bawahnya, perahu kayu itu bergerak pelan, nyaris tanpa suara.
Ia bukan lagi raja sungai. Ia adalah sisa cerita yang bertahan.
Dan di balik kemudinya, seorang lelaki tua menggenggam lebih dari sekadar setir kayu ia menggenggam ingatan tentang kota yang pernah sepenuhnya hidup dari air.
Menunggu, mungkin bukan hanya penumpang, melainkan juga perhatian, agar tidak benar-benar hilang ditelan waktu. (Hyi)


