Tulis & Tekan Enter
images

Pembentukan Bank Sampah mendorong warga untuk terus menjaga kebersihan lingkungan sekaligus menambah pendapatan

Bank Sampah Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi Warga di Margasari

Kaltimkita.com, BALIKPAPAN — Pemerintah Kelurahan Margasari, Kecamatan Balikpapan Barat, mulai mendorong pengelolaan sampah berbasis ekonomi masyarakat melalui pembentukan bank sampah di setiap RT. Program ini diproyeksikan tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang tambahan penghasilan bagi warga.

Lurah Margasari, Hendra Jaya Prawira, mengatakan pembentukan bank sampah merupakan pengembangan dari program Gerakan Terpadu Kelola Sampah (Gertak Sampah) yang sebelumnya telah berjalan di lingkungan masyarakat pesisir.

Menurutnya, kesadaran warga terhadap pentingnya kebersihan mulai tumbuh setelah program tersebut aktif dilakukan bersama masyarakat dan kader lingkungan. Karena itu, pemerintah kelurahan ingin pengelolaan sampah tidak berhenti hanya pada kegiatan gotong royong kebersihan.

“Kami ingin sampah ini punya nilai manfaat bagi warga. Jadi bukan hanya dibuang, tetapi bisa dikelola dan menghasilkan nilai ekonomi,” kata Hendra, Sabtu (9/5/2026).

Ia menjelaskan, bank sampah nantinya akan menjadi tempat warga menabung sampah hasil pemilahan rumah tangga seperti botol plastik, kardus, kertas, maupun logam yang masih memiliki nilai jual.

Sampah yang terkumpul akan dicatat layaknya tabungan dan dapat ditukar menjadi uang setelah mencapai jumlah tertentu. Sistem tersebut diharapkan mampu menarik minat masyarakat untuk mulai memilah sampah sejak dari rumah.

“Kalau masyarakat melihat ada manfaat ekonominya, biasanya partisipasi akan lebih mudah tumbuh,” ujarnya.

Kelurahan Margasari juga telah menjalin kerja sama dengan lembaga lingkungan Ciroes yang selama ini membantu pengangkutan sampah daur ulang dari wilayah pesisir.

Melalui sistem penjemputan rutin, warga nantinya tidak perlu lagi kesulitan menyalurkan hasil pilahan sampah mereka. Seluruh pengumpulan akan terkoordinasi melalui bank sampah di masing-masing RT.

Selain memberikan manfaat ekonomi, program tersebut juga diharapkan mampu mengurangi volume sampah rumah tangga yang selama ini masih banyak bercampur sebelum dibuang ke tempat pembuangan sementara.

Menurut Hendra, persoalan sampah di kawasan pesisir tidak bisa hanya mengandalkan petugas kebersihan, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dalam memilah dan mengurangi limbah rumah tangga.

“Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama. Kalau warga mulai memilah sampah dari rumah, dampaknya akan sangat besar terhadap kebersihan lingkungan,” jelasnya.

Untuk mendukung pelaksanaan program, pihak kelurahan akan menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan kader PKK guna memberikan pelatihan pengelolaan bank sampah kepada pengurus RT dan kelompok masyarakat.

Pelatihan itu mencakup pencatatan administrasi, tata cara pemilahan sampah, hingga pengelolaan hasil daur ulang agar bank sampah dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.

Hendra berharap, keberadaan bank sampah nantinya bukan hanya menjadi fasilitas lingkungan, tetapi juga ruang edukasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.

“Kami ingin warga merasakan langsung manfaatnya, baik lingkungan jadi bersih maupun ada tambahan nilai ekonomi untuk masyarakat,” tuturnya. (ref)



Tinggalkan Komentar

//