Kaltimkita.com, BALIKPAPAN - Seorang pria lansia bernama Karmaji (78) menjalani hari-harinya sebagai juru parkir binaan di komplek Balikpapan Permai, Kota Balikpapan.
Meski usianya nyaris menginjak delapan dekade, tubuhnya tampak bugar untuk mengatur keluar-masuk kendaraan, termasuk merapikan sepeda motor yang tak jarang parkir berantakan.
Ia mulai bekerja sekitar pukul 11.00 hingga 16.30 WITA setiap hari, yang diniatkan sekadar mengisi waktu.
Karmaji baru sekitar enam bulan terakhir mengatur ritme parkir di lokasi tersebut setelah lebih dari dua tahun menganggur.
"Saya tinggal di Gunung Sari (Balikpapan Tengah), dikasih tempat tinggal sama orang, terus nggak ditarik uang sewa," ujar Karmaji memulai ceritanya kepada media ini.
Di Balikpapan, ia tinggal seorang diri. Istrinya harus menjalani perawatan medis di Jawa, sementara kedua anaknya telah hidup mandiri di luar Kota Minyak.
Dalam menjalani pekerjaannya, Karmaji dibekali rompi resmi serta alat pembayaran non-tunai berbasis QRIS yang digunakan dalam sistem perparkiran Kota Balikpapan. Tarif parkir dipatok Rp5.000 untuk mobil, sementara sepeda motor Rp3.000.
Namun, kondisi di lapangan tak selalu ideal. Sepengalaman Karmaji, tak semua pengendara memiliki QRIS atau kartu pembayaran, sehingga mayoritas memilih membayar secara tunai.
Soal pembayaran, Karmaji kerap memilih jalan toleransi. Jika pengendara tidak membawa uang, ia tak memaksa. Sikap itu ia ambil demi menghindari ketegangan dengan pengendara. Karmaji lebih suka mengalah.
"Kalau ada yang tidak punya uang, saya tidak memaksa, saya sudah tua, takut dimaki-maki," ucap perantau asal Surabaya tersebut.
Ditanya soal pendapatan, pria yang hobi memelihara ayam itu memperoleh hasil tidak menentu. Dalam sehari, penghasilan tertinggi bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Dari pendapatan tersebut, Karmaji menyisihkan Rp20 ribu per hari untuk memenuhi kewajiban retribusi kepada pengelola.
Di balik rutinitasnya, Karmaji menyimpan perjalanan hidup panjang. Ia sendiri merantau ke Balikpapan pada 1976.
Sebelum menjadi jukir, Karmaji sempat bekerja serabutan di Malaysia pada 1985, lalu kembali ke Balikpapan pada 1989 dan bekerja sebagai satpam di mal Balikpapan Center (sekarang Plaza Balikpapan) hingga 2000, sebelum akhirnya tersandung PHK.
Demi menyambung hidup, ia sempat bekerja sebagai tukang parkir nonresmi di salah satu apotek di Balikpapan sebelum akhirnya gulung tikar usai bertahun-tahun beroperasi. Kondisi itu memaksanya kembali tak berpenghasilan.
Berkat relasi dengan sesama jukir, akhirnya keberuntungan datang dari seseorang yang enggan ia sebutkan namanya, menawarinya jadi jukir binaan di lokasi sekarang.
Kini, di usia yang telah menginjak senja, ia menolak berhenti bekerja meski nyaris tanpa tanggungan. Karmaji enggan berhenti kendati stamina tak sekuat masa muda.
Meski bisa memilih hidup sekadar makan dan tidur, Karmaji tetap bersikeras bekerja. Ia pun bersyukur karena masih diberi kesehatan untuk berdiri di jalanan, tersengat terik matahari demi mengatur kendaraan, dan menjalani hari dengan caranya sendiri.
"Sebagai laki-laki, saya tetap harus bekerja, kalau anak minta uang lalu saya tidak punya, saya malu, itu harga diri," lirih Karmaji. (zyn)


