Tulis & Tekan Enter
images

Jabatan Ada. Kepemimpinan?

Oleh : Andi Ahmad Sanusi

-President Director Inkorincorp Ocean Global -Komisaris PT INkorincorp Filcocean Investama

-Wakil Ketua Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Balikpapan

Di dunia olahraga daerah, jabatan ketua cabang olahraga (Cabor) sering terdengar gagah. Ada SK. Ada stempel. Ada foto pelantikan. Selebihnya, sunyi. Di titik inilah persoalan bermula.

Olahraga tidak hidup dari struktur. Ia hidup dari energi. Dari orang-orang yang mau datang lebih awal ke lapangan, pulang paling akhir dari rapat dan tetap menjawab telepon ketika tidak ada anggaran. Jika ketuanya hanya simbol, organisasi memang tetap ada tetapi nyawanya tidak bergerak.

Kita kerap menyalahkan atlet sebagai kurang disiplin, mental lemah, prestasi turun. Jarang kita jujur menengok ke atas. Padahal atlet membaca keadaan lebih cepat dari siapa pun. Mereka tahu kapan pemimpinnya hadir sungguh-sungguh dan kapan hanya sekadar hadir di daftar undangan.

Ketua cabor bukan jabatan kehormatan. Ia jabatan kerja. Bukan pekerjaan sambilan, apalagi tempat parkir nama. Di level kota seperti Balikpapan, ketua cabor adalah pusat gravitasi. Ia yang menentukan apakah pelatih berani tegas, apakah program latihan jalan, apakah konflik diselesaikan atau dibiarkan busuk.

Logikanya sederhana. Tidak mungkin menuntut “all out” dari atlet, jika ketuanya setengah hati. Tidak adil bicara target, jika pemimpinnya jarang turun ke lapangan. Tidak masuk akal berharap prestasi, jika yang hadir hanya administrasi.

Olahraga daerah bukan soal besar-kecilan anggaran. Ia soal konsistensi perhatian. Banyak cabor mati suri bukan karena tidak ada bakat tetapi karena tidak ada orang yang benar-benar menghidupinya. Ketua yang all out bisa membuat cabor kecil bertahan. Ketua simbolik bisa mematikan cabor yang sebenarnya punya potensi.

Di sini kepemimpinan diuji, bukan di podium, tapi di hari-hari sepi. Saat atlet kalah. Saat pelatih mengeluh. Saat dana tidak turun. Saat tidak ada kamera.

Jika menjadi ketua cabor hanya untuk nama, lebih jujur mundur. Beri ruang pada mereka yang siap bekerja. Karena olahraga tidak butuh figur. Ia butuh pemimpin.

Dan pemimpin, dalam olahraga, hanya punya satu ukuran. Hadir, Peduli dan All out. (*)


TAG

Tinggalkan Komentar

//