Kaltimkita.com, BALIKPAPAN - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah menggungkap penyebab kecelakaan truk di jalan menurun simpang Muara Rapak saat menggelar media rilis, di aula kantor Balai Kota Balikpapan, pada Kamis (23/6/2022) pagi.
Diketahui, kecelakaan yang terjadi pada 21 Januari 2022 sekira pukul 05.30 Wita itu, disebabkan gagalnya rem dari truk bermuatan peti kemas 20 feet, sehingga meluncur menghantam pengendara yang menunggu di depan lampu merah Muara Rapak arah ke Balikpapan Barat. Merenggut 4 korban jiwa dan 14 orang luka-luka.
Hasil investigasi dan analisis yang didapat KNKT, faktor penggunaan gigi tinggi pada jalan menurun yang memaksa pengemudi melakukan pengereman berulang kali, dan hal ini beresiko menurunkan tekanan angin pada tabung angin rem.
Selain itu, kondisi kendaraan di mana celah antara kampas dengan tromol di atas ambang batas yang ditetapkan. Pada saat memasuki Simpang Muara Rapak, tekanan angin pada tabung angin rem hanya sisa 5 bar dan hal ini yang menyebabkan pengemudi tidak mampu melakukan pengereman kendaraan sehingga kecelakaan itu terjadi.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan penyebab lainnya juga disebabkan kelelahan pengemudi, yang memakan waktu berhari-hari untuk menunggu antrean SPBU.
”Kelelahan sopir kami harapkan bisa ditanggulangi. Disini penanggulangan sudah cukup baik dalam mengurangi menghilang kan antrian solar, ” ujar Kepala KNKT Soerjanto Tjahyono.
Kemudian, Soerjanto menambahkan, terkait Uji KIR kelayakan truk yang beroperasi saat ini tengah terus didiskusikan, dimana diupayakan agar setiap kendaraan dapat menguji KIR di setiap daerah mana saja, tanpa harus ke daerah asal kendaraan dikeluarkan.
Serta, usulan pembangunan Fly Over diturunan Muara Rapak, menurutnya perlunya mengkaji terlebih dahulu, sehingga benar-benar tidak hanya memindahkan masalah baru.
"Ya agar mengantisipasi tidak telatnya melakukan uji KIR, apalagi ini penting. Maka itu ini mau kami godok, apalagi dibeberapa tempat kecelakaan juga mempertanyakan menyangkut masalah ini," tuturnya.
"Dan opsi ingin membangun membangun flyover dipersilahkan, namun perlunya dikaji dahulu," tambahnya.
Di tempat yang sama, Plt Kepala Subkomite Investigasi LLAJ KNKT, Wildan, menjelaskan ada empat rekomendasi KNKT untuk mencegah tidak terulangnya kembali kecelakaan tersebut, dan membuat fatalitasnya menurun dan terhindarkan.

Plt Kepala Subkomite Investigasi LLAJ KNKT, Wildan
Pertama, lanjutnya, kita harus memisahkan lalu lintas guna menghindari fatalitas tinggi, yang disebabkan pada saat lalu lintasnya semua menyatu.
"Jadi Balikpapan 85 persen itu daerah perbukitan, risiko kecelakaan pada kendaraan barang yang rem blong maupun gagal nanjak itu tinggi. Ketika bercampur dengan kendaraan lain, maka resiko fatal makin banyak terhadap kendaraan lain. Sebab itu, dipisahkan kendaraan barang hanya akan beroprasi saat kondisi lalu lintas sepi," jelasnya.
Kedua, harus memberikan edukasi kepada pengemudi, bahwa kecelakaan yang terjadi karena pengemudi tidak paham penggunaan teknologi sistem rem.
"Jadi remnya nggak masalah,yang masalah pengemudinya nggak tau cara ngerem," cetusnya.
Lalu ketiga, mengatur kendaraan barang untuk tidak boleh masuk. Berarti harus menyediakan fasilitas. Yakni membuat plat centre, yaitu tempat penampungan sementara untuk pemindahan barang sebelum masuk ke Balikpapan, dan disana dilengkapi SPBU, tempat cuci, dan sebagainya lengkap
"Dan keempat adalah kepada Kementerian Perhubungan atau Dinas Perhubungan, agar menerapkan kegiatan untuk mengingatkan menggunakan gigi rendah, taati rambu dan sebagainya kepada para pengemudi tersebut," tandasnya. (lex)


