Kaltimkita.com, BALIKPAPAN - Memoar karangan aktris Aurélie Moeremans melalui buku digital Broken Strings memantik percakapan tentang ancaman child grooming yang kerap luput dari perhatian publik.
Kisah personal yang ia bagikan justru membuka tabir praktik manipulasi orang dewasa terhadap anak, sebuah pola kekerasan psikologis yang dinilai masih sering disalahpahami.
Psikolog profesional di Balikpapan, Patria Rahmawaty, S.Psi., M.MPd., Psikolog, menilai fenomena child grooming bukanlah isu baru, meski istilahnya belakangan semakin dikenal.
Menurutnya, praktik ini sudah lama terjadi di lingkungan sekitar dan dapat menimpa siapa saja tanpa memandang latar belakang sosial.
"Child grooming adalah tindakan yang dilakukan secara sengaja oleh orang dewasa untuk mendekati anak yang usianya jauh lebih muda, dengan tujuan membangun relasi manipulatif demi kepentingan eksploitasi,” jelas Patria, Minggu (18/1/2026).
Ia menegaskan bahwa tujuan pendekatan tersebut bukanlah relasi yang sehat, melainkan upaya sistematis untuk membuka jalan menuju eksploitasi, termasuk kekerasan seksual.
Dalam praktiknya, pelaku kerap menyamarkan niat dengan sikap perhatian, perlindungan, dan kasih sayang yang tampak wajar.
Patria juga mengurai perbedaan mendasar antara child grooming dan pedofilia, dua istilah yang sering tertukar di tengah masyarakat.
Pedofilia, kata dia, berangkat dari orientasi seksual terhadap anak sejak awal. Sementara itu, child grooming lebih menitikberatkan pada proses panjang manipulasi emosional, pembentukan ketergantungan, hingga isolasi sosial korban.
"Grooming sering menjadi pintu awal terjadinya kekerasan seksual, meski tidak selalu langsung berujung ke sana," ujarnya.
Ia menambahkan, dalam banyak kasus, relasi grooming memiliki garis tipis dengan pedofilia karena adanya kesenjangan usia yang sangat jauh serta relasi kuasa yang timpang antara pelaku dan korban.
Bahaya child grooming terletak pada kemampuannya menyaru sebagai perilaku normal orang dewasa.
Anak-anak yang sedang membutuhkan dukungan emosional menjadi target empuk karena pelaku hadir sebagai sosok yang seolah paling memahami dan melindungi mereka.
Tanpa disadari, korban perlahan masuk ke dalam jebakan kontrol psikologis.
"Pelaku sering kali berasal dari lingkungan terdekat atau orang yang dipercaya anak," kata Patria.
Ia menjelaskan, relasi yang semula tampak tulus dapat berubah menjadi manipulatif, bahkan disertai intimidasi agar korban tidak berani bercerita.
Media sosial dan internet turut dimanfaatkan pelaku untuk membangun rasa aman palsu dan mengikat korban secara emosional.
Dampak child grooming tidak berhenti pada satu fase. Dalam jangka pendek, anak bisa mengalami penurunan prestasi akademik, menarik diri dari lingkungan sosial, serta perubahan emosi yang signifikan.
Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi gangguan kecemasan, depresi, hingga Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) di kemudian hari.
Di Balikpapan, Patria mengungkapkan bahwa pola serupa juga ditemukan. Meski tidak selalu berujung pada kekerasan seksual fisik, tanda-tanda manipulasi perilaku dan pembentukan kontrol terhadap anak sudah terlihat.
"Penurunan konsentrasi dan perubahan perilaku yang mencolok bisa menjadi alarm bagi orang tua dan guru," tegasnya.
Ia menilai edukasi menjadi kunci utama untuk memutus rantai child grooming. Anak perlu dibekali kepercayaan diri agar mampu mengenali dan menolak bentuk manipulasi dari orang dewasa.
Di sisi lain, peran orang tua sangat menentukan, terutama dalam memantau penggunaan gawai dan media sosial anak.
"Langkah awal adalah membangun komunikasi terbuka di rumah," ujar Patria.
Jika anak menunjukkan perubahan perilaku yang berat atau kesulitan untuk bercerita, ia menyarankan agar orang tua segera melibatkan tenaga profesional, seperti psikolog atau psikiater, untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
"Upaya kolektif antara keluarga dan sekolah sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak dari ancaman manipulasi dan eksploitasi seksual terhadap anak," tutup Patria. (zyn)


