Kaltimkita.com, BALIKPAPAN - Penurunan berulang badan jalan di Jalan Syarifuddin Yoes Balikpapan dinilai belum tersentuh akar persoalan.
Setelah mengalami penurunan badan jalan bulan lalu, sempat dilakukan pelapisan ulang aspal sehingga kemiringan bisa berkurang.
Namun demikian tak bertahan lama. Memasuki pergantian bulan, badan jalan di simpang tiga tersebut tampak tanda-tanda penurunan badan jalan seperti semula.
Akademisi di Balikpapan menyimpulkan bahwa tanpa investigasi menyeluruh terhadap struktur bawah, perbaikan yang dilakukan berpotensi terus berulang.
Dosen Teknik Sipil Politeknik Negeri Balikpapan sekaligus Forensic Engineer PT AWEfendi Geostruk Indonesia, Ir. Aco Wahyudi, mengungkapkan bahwa indikasi utama persoalan justru berada di bawah permukaan jalan.
"Hasil investigasi visual tahun 2024 menunjukkan adanya aliran air di lereng bahu jalan akibat kebocoran pipa PDAM," ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Kondisi tersebut, kata dia, memicu terbentuknya kantung air yang berdampak langsung terhadap stabilitas tanah. Lanjut dia, temuan ini tervalidasi dari hasil pengujian geolistrik yang menunjukkan adanya kontur tanah jenuh di lokasi.
Menurut Aco, kondisi tanah di area tersebut sebenarnya memiliki karakteristik yang menjadi rentan saat terpapar air berlebih. Ia menjelaskan bahwa hasil uji SPT menunjukkan lapisan tanah lempung berpasir pada kedalaman 0 hingga 4 meter.
"Pada kedalaman tersebut terdapat muka air tanah, dan sifat tanah berubah menjadi lebih kaku setelah melewati 4 meter," jelasnya.
Namun, kondisi tersebut tidak lagi stabil ketika terjadi kejenuhan. Aco beranggapan, degradasi sifat tanah akibat kejenuhan menyebabkan daya ikat berkurang, dan di area lereng, beban lalu lintas serta gravitasi memicu pergerakan.
Hasil geolistrik memperkuat temuan tersebut dengan menunjukkan adanya lapisan tanah jenuh pada kedalaman 4 hingga 6 meter. Kondisi ini dianggap sebagai faktor penting dalam memicu penurunan badan jalan yang terjadi berulang.
Meski demikian, Aco menilai penanganan yang dilakukan baru-baru ini masih bersifat sementara. "Penanganan terakhir hanya berupa leveling untuk menjaga kenyamanan pengguna jalan sekaligus memantau apakah penurunan kembali terjadi," katanya.
Ia menegaskan bahwa pendekatan tersebut belum cukup untuk menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Tanpa analisis mendalam terhadap kondisi bawah permukaan, perbaikan hanya akan bersifat reaktif.
Lebih lanjut, Aco menekankan pentingnya langkah teknis yang lebih sistematis. "Pengukuran geometri permukaan diperlukan untuk mengidentifikasi pola crown longsoran serta kondisi badan jalan sebagai dasar analisis," ujarnya.
Selain itu, ia menyebut perlunya pengujian lanjutan menggunakan metode SPT, geolistrik, dan sondir terbaru untuk mengetahui perubahan sifat tanah.
"Pemasangan inclinometer juga penting untuk mengidentifikasi kedalaman bidang gelincir longsoran," tambahnya.
Terkait solusi, Aco menyatakan bahwa penanganan harus diarahkan pada penguatan struktur bawah. Ia menyebut metode pile slab sebagai salah satu opsi paling efektif dalam kondisi tersebut.
"Pile slab mampu memotong bidang gelincir longsor dan memberikan struktur yang stabil terhadap penurunan maupun kondisi tanah jenuh," jelasnya.
Selain itu, penggunaan mortar foam atau beton busa juga dapat menjadi alternatif untuk menggantikan timbunan konvensional. Metode ini dinilai mampu mengurangi beban gravitasi serta tekanan lateral pada badan jalan.
Ia menekankan bahwa identifikasi kedalaman bidang gelincir menjadi faktor krusial dalam menentukan metode penanganan. "Bidang gelincir harus ditahan dengan struktur seperti borpile atau pipa pancang agar pergerakan tanah bisa dihentikan," tegasnya. (zyn)


