Oleh: Rusdiansyah Aras
SUASANA Ramadhan selalu punya dimensi ganda: spiritualitas yang teduh dan ruang silaturahmi yang efektif. Bagi dunia politik, momentum ini adalah "ladang emas" untuk menyentuh akar rumput tanpa sekat formalitas yang kaku. Hal inilah yang nampaknya sedang dimainkan dengan apik oleh Ketua DPD Gerindra Kaltim, Ir. H. Seno Aji, M.Si.
Melalui Safari Ramadhan yang menjangkau 10 kabupaten/kota di Bumi Etam, Seno Aji tak sekadar membawa bingkisan doa, tapi juga membawa pesan ambisius: Gerindra harus menguasai kursi di seluruh wilayah Kaltim pada 2029 mendatang. Sebuah target yang berani, mengingat peta politik kita yang sangat dinamis.
Panggung 2029: Antara Diam dan Dinamika
Menarik ketika Seno Aji masih "menyimpan rapat" nama-nama yang akan diusung untuk suksesi 2029. Dalam politik, diam bukan berarti pasif. Ini adalah strategi menjaga keseimbangan suhu politik internal agar mesin partai tidak panas sebelum waktunya.
Namun, publik tentu tidak buta. Di level provinsi, nama anggota DPR RI Budisatrio Djiwandono—keponakan Presiden Prabowo dari Dapil Kaltim —jelas merupakan magnet utama. Ditambah figur Andi Harun, Wali Kota Samarinda dua periode yang elektabilitasnya masih sangat kokoh. Keduanya adalah aset berharga yang dimiliki Gerindra untuk mengamankan takhta kepemimpinan di Kaltim.
Pertarungan di Kota Tepian
Di Samarinda, tensi mulai terasa pada figur-figur krusial di internal partai. Ada Sekretaris DPD Gerinda Kaltim, Agus Suwandy, yang juga Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kaltim yang dikenal taktis dalam lobi-lobi politik. Di sisi lain, muncul Helmi Abdullah, Ketua DPRD Samarinda sekaligus nakhoda Gerindra di kota ini. Keduanya adalah kader tulen dengan basis massa yang nyata.
Siapa yang akan mendapatkan restu DPP? Di sinilah kedewasaan politik Gerindra akan diuji. Jika konsolidasi lewat Safari Ramadhan ini sukses menyelaraskan ego masing-masing figur, maka target 10 kabupaten/kota bukan lagi sekadar angan.
Cara Jitu Menuju Puncak
Pertanyaannya kemudian, selain konsolidasi, apa "cara jitu" yang harus dilakukan? Menurut hemat saya, ada tiga hal yang perlu diperhatikan:
Transformasi Data ke Kebijakan: Gerindra harus mampu menerjemahkan aspirasi yang didapat selama safari menjadi program nyata yang menyentuh ekonomi rakyat kecil.
Harmonisasi Pusat-Daerah: Memanfaatkan kedekatan emosional dengan kepemimpinan nasional (Presiden Prabowo) untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di Kaltim.
Kaderisasi Militan: Bukan sekadar mencari suara, tapi mencetak kader yang mampu menjadi solusi di tengah masyarakat.
Langkah Seno Aji mengelilingi 10 daerah di tengah ibadah puasa adalah bukti bahwa Gerindra sedang berlari maraton, bukan sekadar sprint. Konsistensi adalah kuncinya.
Kita doakan Gerindra Kaltim bisa memberikan yang terbaik untuk pembangunan daerah. Politik adalah pengabdian, dan Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memulainya dengan niat yang tulus.
Bravo Partai Gerindra Kaltim!(rd)


