Kaltimkita.com, SAMARINDA - Husnul Syahab tidak pernah membayangkan bubur yang ia santap sejak kecil di Samarinda Seberang suatu hari akan dinikmati ratusan orang di ibu kota baru Indonesia.
Perempuan 51 tahun itu adalah pewaris resep Bubur Baqa--menu kuliner legendaris Masjid Al-Baqa yang kini tampil dengan nama baru: Bubur Nusantara, di Masjid Negara IKN.
Resep ini bahkan sudah ada sebelum Husnul lahir. Ia mendengar ceritanya dari sang ayah berkali-kali.
"Awalnya, kata Abah saya, dulu buburnya cuma putih saja," kata Husnul saat dihubungi lewat telepon, belum lama ini.
Perubahan besar itu bermula dari seorang tamu. Datuk Husnul--kakek buyutnya yang memiliki darah Arab--kedatangan rekan dari Arab yang membawa buntelan rempah-rempah.
Sejak hari itu, bubur putih di Masjid Al-Baqa bertransformasi. Rempah-rempah tadi dicampurkan ke dalam bumbu dasar, menghasilkan cita rasa kari yang kini menjadi identitas Bubur Baqa.
Tradisi memasak bubur di masjid ini sudah mengakar setidaknya sejak akhir 1970-an. Husnul masih ingat betul suasananya waktu kecil.
Selepas asar, anak-anak di sekitar kampung yang kala itu masih dipenuhi rumah panggung di pinggir sungai bergerak ramai-ramai menuju masjid.
"Anak-anak masyarakat sini kalau selesai masak bubur, mereka berbondong-bondong ke masjid bawa rantang masing-masing," ujarnya.
Bubur itu memang untuk siapa saja. Musafir yang kebetulan singgah dan belum sempat berbuka pun bebas ikut makan bersama jemaah. Tidak ada syarat, tidak ada tiket.
Sekilas mungkin banyak orang akan keliru menduga Bubur Baqa serupa dengan bubur ayam atau bubur pada umumnya. Husnul langsung meluruskan.
"Bumbunya tetap bumbu dasar, tapi yang membedakan memang di bumbu kari dan rempah-rempahnya," tegasnya.
"Kami tidak pakai ayam. Dulu pakai daging, sekarang pakai kornet atau daging giling. Spesifiknya memang di karinya," tambah perempuan yang kerap disapa Nenong itu.
Proses memasaknya pun bukan perkara enteng. Panci berdiameter 80 sentimeter setinggi 50 sentimeter menjadi medannya. Setelah beras hampir pecah, margarin dimasukkan, lalu bumbu dituang.
"Aduk terus supaya tidak gosong. Itu seninya. Mengaduknya minimal dua orang karena harus nonstop, hampir dua jam penuh tanpa jeda," papar Husnul.
Ketika Otorita IKN meminta Bubur Baqa hadir sebagai takjil Ramadan di Masjid Negara, Husnul tidak hanya mengirim resep. Ia terbang langsung ke Nusantara dan tinggal beberapa hari untuk melatih juru masak lokal.
"Saya dua hari saja di sana, karena bulan puasa tidak bisa lama-lama di luar kota, jadi saya ajarkan cara membuatnya," jelasnya.
Untuk memastikan rasa tidak meleset, ia memulai dengan membuatkan dulu untuk dicicipi oleh juru masak di Masjid IKN.
Selain itu, dia juga mengirimkan bumbu racikan asli dari Samarinda per 10 hari.
"Bumbu sudah saya kirim dari sini untuk 10 hari pertama, lalu kirim lagi untuk 10 hari kedua," ungkapnya.
Sistem takarannya ia buat sesederhana mungkin agar mudah diterapkan di skala besar. "Misalnya 15 kilogram beras, berarti 15 kaleng kornet. Perbandingannya saja yang diatur," kata Husnul.
Hasilnya terbukti. Pada hari kedua memasak secara mandiri, juru masak di IKN sudah berhasil menghasilkan rasa yang sesuai standar aslinya.
Respons masyarakat di IKN melampaui perkiraan. Setiap hari, Otorita IKN menyiapkan 700 hingga 800 porsi Bubur Nusantara. Namun pada Sabtu (28/2/2026), angka itu tembus 1.000 porsi dan habis.
Momen paling berkesan bagi Husnul terjadi saat Menteri Agama hadir. Dua panci besar bubur tersaji sekaligus.
Popularitas Bubur Nusantara tidak membuat OIKN lupa diri. Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN Alimuddin menegaskan satu hal yang tidak bisa ditawar.
"Saya melihat bahwa hak cipta racikan ini milik teman-teman di Samarinda Seberang," tegasnya.
OIKN bahkan berencana mengundang kembali Husnul untuk peringatan Nuzulul Quran pada 7 Maret 2026, lantaran volume masakan yang disiapkan akan jauh lebih besar dari porsi harian.
Ke depan, IKN juga ingin menghadirkan kuliner tradisional lain dari Kalimantan Timur, termasuk bubur dari Masjid Shiratal Mustaqim, untuk semakin memperkaya khazanah takjil di Masjid Negara.
Sementara itu di Samarinda Seberang, Masjid Al-Baqa tetap berdiri dengan bubur khasnya yang selalu menjadi tradisi dari generasi ke generasi. (zyn)


